عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا ”.
Artinya:
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah: Nabi ﷺ bersabda,
“Setiap hari ada dua malaikat yang turun dari langit, salah satu dari mereka berdoa: ‘Ya Allah! Berikanlah ganti (gantilah harta) kepada setiap orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Mu,’ sedangkan malaikat yang satunya lagi berdoa: ‘Ya Allah! Binasakanlah (hancurkanlah harta) setiap orang yang kikir (menahan hartanya).'”
Sahih Bukhari, Kitab al-Zakat, No. 1442; Sahih Muslim, No. 1010.
- Pengalokasian dana atau harta untuk maslahat publik akan mendatangkan keberkahan sistemik, sementara sifat kikir akan menghancurkan tatanan tersebut.
- Meskipun secara umum hadis ini berbicara tentang infak dan kekikiran personal, dalam konteks tata negara, hadis ini berlaku pada manajemen anggaran. Pemimpin yang “menginfakkan” anggaran negara secara tepat sasaran untuk program kesejahteraan akan didoakan oleh malaikat agar negaranya tumbuh makmur (khalafan). Sebaliknya, penimbunan kekayaan negara atau sifat kikir dalam memberikan hak rakyat akan mengundang kehancuran ekonomi (talafan).