عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وفي رواية عن عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. (dan dalam riwayat lain dari Abdul Rahman bin Samurah r.a.), ia berkata:
“Wahai Abdul Rahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan. Karena jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka kamu akan menanggung beban jabatan itu sendirian (tanpa pertolongan Allah). Namun jika kamu diberi jabatan bukan karena memintanya, maka kamu akan dibantu (oleh Allah) dalam melaksanakannya.”
Sahih Bukhari, No. 7146; Sahih Muslim, No. 1652.
- Orang yang terlalu berambisi dan mengejar-ngejar jabatan cenderung tidak akan dibantu oleh Allah saat memimpin.
- Hadis ini menjadi dasar etika dalam seleksi kepemimpinan. Islam melarang seseorang terlalu ambisius mengejar jabatan melalui kampanye hitam, politik uang, atau mematikan karakter orang lain. Orang yang ambisius biasanya digerakkan oleh ego, sehingga Allah akan melepasnya menghadapi beban berat tersebut sendirian. Sebaliknya, orang yang ditunjuk karena kompetensi dan integritasnya (tanpa meminta) akan mendapatkan taufik dan kemudahan dari Allah.