Adab berdoa


حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ وَهُوَ ابْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ

قَالَ

يَقُولُ

قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Shahih Muslim 4918:

Telah menceritakan kepadaku (Abu Ath Thahir) telah mengabarkan kepada kami (Ibnu Wahb) telah mengabarkan kepadaku (Mu’awiyah bin Shalih) dari (Rabi’ah bin Yazid) dari (Abu Idris Al Khaulani) dari (Abu Hurairah) dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan: Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.

Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ini menjelaskan tiga syarat utama agar doa seorang hamba dikabulkan oleh Allah yaitu:

  1. Bukan untuk Kemaksiatan: Doa yang dipanjatkan tidak boleh mengandung unsur perbuatan dosa atau kezaliman.
  2. Bukan untuk Memutus Silaturahmi: Doa tidak boleh bertujuan merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
  3. Tidak Tergesa-gesa (Isti’jal): Rasulullah menjelaskan bahwa sikap tergesa-gesa adalah ketika seseorang mengeluh telah sering berdoa tetapi merasa tidak dikabulkan, lalu ia putus asa dan berhenti berdoa.