عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Terjemahan:”Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh — atau enam puluh — cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”
Sumber: HR. Al-Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35. Derajat: *Shahih (Muttafaq ‘alaih)*.
Faedah: Rasa malu (haya’) bukan kelemahan, melainkan bagian integral dari keimanan yang mendorong seseorang—khususnya perempuan—untuk menjaga kehormatan diri, tutur kata, dan penampilan.