Akhlak Kepada Sesama Manusia


B. Akhlak Kepada Sesama Manusia

1. QS. An-nisa: 36

  • Berbuat baik

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri”.

Penjelasan: 

Allah memerintahkan berbuat baik kepada semua pihak, mulai dari orang tua hingga masyarakat luas. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam menolak diskriminasi dalam kebaikan. Akhlak yang ditekankan adalah kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Hubungan horizontal menjadi bagian dari iman.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari:

Seseorang berbuat baik kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat tanpa membedakan status sosial. Ia peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak bersikap individualistis.

Pesan Moral:

Akhlak sosial adalah wujud nyata dari keimanan seseorang.

 

2. QS. Al-Hujurat: 10

  • Persaudaraan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati”

Penjelasan:

Ayat ini menegaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara. Persaudaraan iman menuntut sikap saling menjaga, mendamaikan, dan menghindari konflik. Perpecahan dianggap bertentangan dengan nilai iman. Akhlak sosial yang lahir adalah solidaritas dan empati.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari:

Dalam perbedaan pendapat, seorang Muslim berusaha menjaga persaudaraan dan tidak memperbesar konflik. Ia lebih memilih dialog dan musyawarah.

Pesan moral:

Persatuan umat lebih utama daripada ego pribadi. Dalam perbedaan pendapat, seorang Muslim berusaha menjaga persaudaraan dan tidak memperbesar konflik. Ia lebih memilih dialog dan musyawarah.

 

3. QS. Al-Isra’: 23

  • Birrul walidain

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

 

Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucakanlah kepada keduanya perkataan yang baik”.

Penjelasan:

Berbakti kepada orang tua menempati posisi utama setelah tauhid. Islam menekankan sikap hormat, lembut, dan penuh kasih kepada mereka. Bahkan ucapan kasar sekecil apa pun dilarang. Akhlak ini membentuk kepribadian yang beradab dan berterima kasih.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari:

Seorang anak harus memperlakukan orang tuanya dengan penuh hormat, berbicara lembut, dan membantu kebutuhan mereka, terutama di usia lanjut.

Pesan moral:

Berbakti kepada orang tua membawa keberkahan hidup

 

4. Al-Baqarah:83

  • Bersikap lembut

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang”.

Penjelasan: 

Ayat ini memerintahkan berkata baik kepada sesama manusia. Lisan menjadi cerminan akhlak dan kualitas iman seseorang. Perkataan yang baik menjaga keharmonisan sosial. Islam sangat menekankan etika komunikasi.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Menjaga tutur kata dan bersikap santun dalam pergaulan sehari-hari. Agar bisa mengurangi kesalahan yang ada.

Pesan moral:

Ucapan yang baik mencerminkan kebersihan hati.

 

5. QS. Al-Hujurat: 11

  • Menghormati

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.

Penjelasan: 

Larangan mengejek dan merendahkan orang lain bertujuan menjaga kehormatan manusia. Setiap individu memiliki martabat yang harus dihormati. Akhlak ini menumbuhkan sikap saling menghargai. Islam menolak budaya merendahkan.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Sebisa kita hindari sikap merendahkan atau mengejek orang lain, baik secara langsung maupun melalui media digital.

Pesan moral:

Menghormati sesama manusia adalah cermin akhlak mulia.

 

6. QS. Ali-Imran: 134

  • Memaafkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

Penjelasan:

Orang bertakwa adalah mereka yang mampu mengendalikan emosi dan memaafkan. Menahan amarah bukan kelemahan, tetapi kekuatan moral. Sikap pemaaf menciptakan kedamaian batin dan sosial. Akhlak ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Ketika disakiti, kita sebisanya berusaha menahan amarah dan memaafkan, karena sadar bahwa dendam hanya merugikan diri sendiri.

Pesan Moral:

Pemaaf adalah pribadi yang matang secara spiritual.

 

7. QS. Al- Maidah: 8

  • Adil

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Penjelasan: 

Keadilan harus ditegakkan tanpa dipengaruhi rasa suka atau benci. Ayat ini menegaskan objektivitas dan integritas moral. Berlaku adil adalah bentuk ketakwaan. Akhlak ini sangat relevan dalam kepemimpinan dan hukum.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Dalam mengambil keputusan, kita harus bersikap adil meskipun terhadap orang yang tidak disukainya.

Pesan moral:

Keadilan adalah nilai luhur yang harus dijaga dalam kehidupan sosial.

 

8. QS. An-nur: 22

  • Pemaaf

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Penjelasan: 

Orang bertakwa adalah mereka yang mampu mengendalikan emosi dan memaafkan. Menahan amarah bukan kelemahan, tetapi kekuatan moral. Sikap pemaaf menciptakan kedamaian batin dan sosial. Akhlak ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Memilih memaafkan kesalahan orang lain dan tidak terus-menerus mengungkit masa lalu.

Pesan Moral:

Memaafkan membuka pintu ketenangan hati.

 

9. QS. Al-Hujurat: 12

  • Menjaga lisan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ  اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”.

Penjelasan:

Prasangka buruk, tajassus, dan ghibah dilarang karena merusak kepercayaan sosial. Ayat ini menjaga kebersihan hati dan hubungan antar manusia. Akhlak yang ditekankan adalah husnuzan dan menjaga lisan. Keharmonisan sosial menjadi tujuan utama.

Penerapan Dalam kehidupan Sehari-hari:

Sebagai Seorang Muslim menjaga lisannya dari ghibah dan fitnah, serta berhati-hati dalam menyebarkan informasi.

Pesan moral:

Menjaga lisan berarti menjaga kehormatan diri dan orang lain.

 

 

10. QS, Al-Qassas : 77

  • Peduli sesama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

 

Artinya:”Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Penjelasan:

Manusia diperintahkan berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Kebaikan harus bersifat aktif dan berkelanjutan. Ayat ini menanamkan rasa tanggung jawab sosial. Akhlak ini melahirkan kepedulian dan kedermawanan.

Penerapan Dalam kehidupan sehari-hari:

Seorang Muslim Harus bisa memanfaatkan hartanya untuk membantu sesama dan tidak berbuat kerusakan di masyarakat.

Pesan moral:

Harta adalah sarana berbuat kebaikan, bukan alat kesombongan.