وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Tafsir tahlīlī:
Allah menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia. Takut, lapar, kehilangan harta atau orang yang dicintai — semuanya adalah “sekolah kehidupan” untuk menguji seberapa kuat iman seseorang.
Sabar di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap tenang, berikhtiar, dan percaya bahwa setiap ujian memiliki hikmah tersembunyi.
Misalnya, seorang pedagang yang kehilangan usahanya karena bencana, jika ia tetap berdoa dan bangkit kembali tanpa menyalahkan takdir, maka ia telah lulus dari ujian sabar.
Hikmah:
Ujian adalah ladang untuk menumbuhkan sabar. Seperti pohon yang tumbuh kuat karena sering diterpa angin, demikian pula iman tumbuh kuat karena ujian.