Ash-Shaffat [37]:101–102


فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ۝ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

Artinya: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyabar. Tatkala anak itu telah cukup umur untuk berusaha bersama ayahnya, (Ibrahim) berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu…’”

Tafsir tahlīlī:
Ini adalah kisah ujian besar bagi Nabi Ibrahim dan Ismail. Dalam tafsir al-Rāzi, sabar yang ditunjukkan keduanya adalah bentuk tertinggi dari kepasrahan kepada perintah Allah. Sabar dalam pengorbanan bukan berarti tanpa rasa, melainkan menundukkan rasa di bawah ridha Allah.

Contoh: Seorang ayah rela berpisah sementara dengan anaknya demi menunaikan tugas dakwah atau ibadah haji, karena yakin Allah menggantinya dengan kebaikan.

Hikmah: Sabar dalam pengorbanan melahirkan keturunan saleh.