Al-Baqarah [2]:156–157


الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tafsir tahlīlī:
Ayat ini mengajarkan zikir paling menenangkan di saat musibah: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Kalimat ini bukan sekadar ucapan formal, tetapi pernyataan iman bahwa hidup, mati, dan segala kepemilikan adalah milik Allah. Dengan kesadaran itu, hati menjadi tenang meski kehilangan sesuatu yang dicintai.
Contohnya, ketika seseorang kehilangan orang tua, dengan mengucapkan kalimat ini ia tidak hanya berduka, tapi juga menegaskan bahwa ia percaya akan pertemuan kembali di akhirat.

Hikmah:
Mengingat asal dan tujuan hidup melahirkan ketenangan sejati. Kesabaran dalam kehilangan adalah tanda kedewasaan iman.