Kesucian diri sebagai bentuk cinta Allah


Qs. Al-Baqarah {2} : 222:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah suatu kotoran.”65) Maka, jauhilah para istri (dari melakukan hubungan intim) pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Ayat ini turun dalam konteks pembahasan tentang haid dan hukum berhubungan suami-istri ketika istri dalam keadaan haid. Pada masa Jahiliyah dan sebagian tradisi Yahudi, perempuan haid diperlakukan secara berlebihan: dijauhi sepenuhnya, bahkan tidak boleh tinggal serumah. Islam datang meluruskan sikap ekstrem tersebut dengan menetapkan batasan yang adil dan manusiawi.

Penjelasan dari tafsir Ibnu Katsir Qs. Al-Baqarah {2} : 222

وَقَالَ أَبُو رَزين، وَعِكْرِمَةُ، وَالضَّحَّاكُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ: ﴿فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ﴾ يَعْنِي: طَاهِرَاتٌ غَيْرُ حُيَّض، وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ﴾ أَيْ: مِنَ الذَّنْبِ وَإِنَّ تَكَرَّرَ(٣٧) غشْيانه، ﴿وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾ أَيِ: الْمُتَنَزِّهِينَ عَنِ(٣٨) الْأَقْذَارِ وَالْأَذَى، وَهُوَ مَا نُهُوا عَنْهُ مِنْ إِتْيَانِ الْحَائِضِ، أَوْ فِي غَيْرِ الْمَأْتَى.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat,” artinya: orang-orang yang bertaubat dari dosa, meskipun mereka berulang kali melakukannya (37), “dan Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri, ” artinya: orang-orang yang menjauhi (38) kekotoran dan bahaya, yang mana hal itu diharamkan bagi mereka. Berhubungan intim dengan wanita yang sedang haid, atau di tempat selain tempat hubungan intim.”

Ibnu katsir menegaskan bahwa ayat ini mencakup dua jenis kesucian:

  1. Kesucian dari dosa melalui taubat
  2. Kesucian dari najis dan hadats melalui thaharah

Ibnu Katsir menambahkan bahwa pengulangan lafaz yuhibbu (Allah mencintai) menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar bagi orang-orang yang menjaga kebersihan lahir dan batin.