QS. Al-A‘rāf {7} : 31:
زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Ayat ini turun untuk meluruskan praktik sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang melakukan thawaf di Ka‘bah tanpa pakaian dengan alasan ritual kesucian. Mereka beranggapan bahwa pakaian yang digunakan untuk bermaksiat tidak pantas dipakai saat beribadah. Islam datang membatalkan praktik tersebut dan menegaskan bahwa menutup aurat, menjaga kebersihan, dan tampil pantas merupakan bagian dari ibadah itu sendiri.
هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ ردٌّ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِيمَا كَانُوا يَعْتَمِدُونَهُ مِنَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ عُراة، كَمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ جَرِيرٍ(١) -وَاللَّفْظُ لَهُ -مِنْ حَدِيثِ شُعْبَةَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْل، عَنْ مُسْلِمٍ البَطِين، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ عُرَاةً، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ: الرِّجَالُ بِالنَّهَارِ، وَالنِّسَاءُ بِاللَّيْلِ. وَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ:
اليومَ يبدُو بعضُه أَوْ كُلّه … وَمَا بَدَا مِنْه فَلَا أحِلّهُ …
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ﴾(٢)
وَقَالَ العَوْفي، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ [تَعَالَى](٣) ﴿خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ﴾ الْآيَةَ، قَالَ: كَانَ رِجَالٌ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ عُرَاةً، فَأَمَرَهُمُ اللَّهُ بِالزِّينَةِ -وَالزِّينَةُ: اللِّبَاسُ، وَهُوَ مَا يُوَارِي السَّوْأَةَ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ جَيّد البزِّ وَالْمَتَاعِ -فَأُمِرُوا أَنْ يَأْخُذُوا زِينَتَهُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ.
Ibn Kathir menegaskan bahwa ayat ini adalah dalil kewajiban menutup aurat dalam shalat dan anjuran berhias secara wajar ketika menghadap Allah. Ia juga menambahkan bahwa Islam tidak melarang menikmati makanan dan minuman, tetapi menolak sikap berlebihan yang merusak kesehatan dan moral.
QS. Al-A‘rāf [7]: 31 menegaskan bahwa kebersihan, kerapian, dan moderasi merupakan bagian integral dari ibadah dalam Islam. Ayat ini mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah harus tercermin dalam sikap lahiriah, pola konsumsi, dan etika sosial. Dengan demikian, Islam menghadirkan konsep ibadah yang menyeluruh—menyentuh aspek spiritual, jasmani, dan sosial manusia.