QS. Asy-Syams {91} : 10 :
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
“dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”
QS. Asy-Syams ayat 10 merupakan antitesis langsung dari ayat sebelumnya (QS. Asy-Syams [91]: 9). Jika ayat 9 menjanjikan keberuntungan (al-falāḥ) bagi orang yang menyucikan jiwanya, maka ayat 10 menegaskan kerugian total (al-khusrān) bagi orang yang membiarkan jiwanya kotor dan rusak. Dalam kajian tematik, kedua ayat ini membentuk kerangka dasar tazkiyatun nafs: antara penyucian dan perusakan jiwa.
Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Imam al-Qurṭubī menjelaskan bahwa ayat ini masih berada dalam rangkaian sumpah-sumpah Allah yang menunjukkan keseriusan pesan moralnya. Menurut beliau, ayat 9 dan 10 adalah jawaban atas sumpah-sumpah tersebut, yang menggambarkan dua kemungkinan akhir perjalanan manusia: keberuntungan atau kerugian, tergantung sikapnya terhadap jiwa.
Ayat ke-10 menegaskan bahwa kegagalan manusia adalah akibat pilihan sadar untuk merusak jiwanya sendiri, bukan karena paksaan dari luar.
Imam al-Qurṭubī memberikan perhatian khusus pada kata دَسَّاهَا (dassāhā). Secara bahasa, kata ini berasal dari dassā–yadussū, yang berarti:
-
menyembunyikan,
-
mengubur,
-
menutup sesuatu yang bernilai dengan kotoran.
Menurut al-Qurṭubī, makna dassāhā menunjukkan bahwa jiwa manusia pada dasarnya memiliki potensi kesucian, namun seseorang menutupi potensi itu dengan dosa, maksiat, dan hawa nafsu. Dengan kata lain, pengotoran jiwa bukan proses instan, tetapi akumulasi perbuatan buruk yang disengaja dan berulang.
Kata خَابَ (khāba) menurut al-Qurṭubī menunjukkan:
-
kegagalan total,
-
kerugian yang tidak dapat ditebus,
-
dan kekecewaan yang berujung penyesalan.
Kerugian ini mencakup tiga dimensi:
-
Kerugian spiritual – jauhnya hati dari Allah
-
Kerugian moral – rusaknya akhlak
-
Kerugian ukhrawi – ancaman azab dan hilangnya kebahagiaan akhirat
Al-Qurṭubī menegaskan bahwa ayat ini mengandung peringatan keras (wa‘īd) bagi siapa pun yang mengabaikan proses tazkiyatun nafs.
Menurut Tafsir al-Qurṭubī, QS. Asy-Syams {91} : 10 menegaskan bahwa kerugian sejati manusia terletak pada kegagalannya menjaga kesucian jiwa. Pengotoran jiwa terjadi ketika manusia menutup potensi kebaikan dengan dosa dan hawa nafsu. Ayat ini melengkapi konsep tazkiyatun nafs sebagai proses sadar dan berkelanjutan yang menentukan nasib manusia di dunia dan akhirat.