Akhlak bersih sebagai identitas hamba Allah


Al-Furqan {5} : 63 :

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”

QS. Al-Furqān {25} : 63 merupakan ayat kunci dalam pembahasan tazkiyatun nafs, karena menggambarkan ciri kepribadian manusia yang jiwanya telah disucikan. Ayat ini membuka rangkaian sifat ‘ibādur-Raḥmān, yakni hamba-hamba Allah yang mencapai derajat spiritual tinggi. Dalam tafsir tematik, ayat ini menegaskan bahwa kesucian jiwa tercermin dalam akhlak sosial, bukan hanya dalam ibadah ritual.

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penggambaran sifat-sifat orang beriman yang sempurna, yang berbeda secara total dengan sifat orang-orang sombong dan pembuat kerusakan. Allah memulai dengan sifat tawāḍu‘ (kerendahan hati) sebagai fondasi utama tazkiyatun nafs.

Ibnu Katsir menafsirkan frasa “wa idzā khāṭabahumul-jāhilūna qālū salāmā” sebagai:

  • tidak membalas kebodohan dengan kebodohan,

  • menghindari konflik,

  • memilih ucapan yang lembut atau diam.

Ini adalah tingkat tinggi pengendalian nafsu, yang hanya bisa dicapai melalui proses tazkiyah yang matang.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Furqān {25} : 63 menggambarkan hasil nyata dari tazkiyatun nafs, yaitu tawadhu, pengendalian emosi, dan akhlak mulia dalam kehidupan sosial. Ayat ini menegaskan bahwa kesucian jiwa sejati tampak pada sikap rendah hati dan kemampuan merespons keburukan dengan kebaikan.