Al-Baqarah {2} : 205
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.”
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah [2]: 205 turun untuk menggambarkan karakter manusia munafik, yang menampakkan kebaikan di hadapan manusia tetapi melakukan kerusakan ketika memiliki kekuasaan atau kesempatan. Ayat ini merupakan lanjutan dari QS. Al-Baqarah [2]: 204 yang berbicara tentang orang yang ucapannya indah namun hatinya penuh kebusukan.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini bersifat menyeluruh, meliputi kerusakan:
-
agama (melalui kemunafikan dan penyesatan),
-
sosial (kezaliman dan penindasan),
-
ekonomi (penghancuran sumber kehidupan),
-
dan lingkungan (perusakan alam dan makhluk hidup).
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah [2]: 205 mengajarkan bahwa:
-
Kerusakan sering lahir dari kemunafikan dan kekuasaan tanpa iman
-
Merusak tanaman dan ternak berarti merusak kehidupan manusia
-
Fasād adalah perbuatan yang dibenci Allah secara mutlak
-
Menjaga alam dan sumber kehidupan adalah bagian dari iman
Ayat ini menegaskan bahwa kebersihan lingkungan, keadilan sosial, dan kelestarian sumber daya adalah tanggung jawab moral dan religius setiap Muslim.
-