Keberuntungan melalui penyucian jiwa


QS. Asy-Syams {91} : 9 :

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

“sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”

QS. Asy-Syams {91} : 9 : merupakan ayat kunci (ayat ushul) dalam pembahasan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) dalam Islam. Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati (al-falāḥ) tidak diukur dari aspek material, melainkan dari keberhasilan manusia dalam menyucikan jiwanya dari dosa, syahwat yang tercela, dan sifat-sifat akhlak yang rusak. Dalam kajian tematik Al-Qur’an, ayat ini menjadi fondasi utama etika spiritual Islam.

Penjelasan tafsir Al-Qurtubi QS. Asy-Syams {91} : 9 :

قَوْلُهُ تَعَالَى: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها هَذَا جَوَابُ الْقَسَمِ، بِمَعْنَى: لَقَدْ أَفْلَحَ. قَالَ الزَّجَّاجُ: اللَّامُ حُذِفَتْ، لِأَنَّ الْكَلَامَ طَالَ، فَصَارَ طُولُهُ عِوَضًا مِنْهَا. وَقِيلَ: الْجَوَابُ مَحْذُوفٌ، أَيْ وَالشَّمْسِ وَكَذَا وَكَذَا لَتُبْعَثُنَّ. الزَّمَخْشَرِيُّ: تَقْدِيرُهُ لَيُدَمْدِمَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ، أَيْ عَلَى أَهْلِ مَكَّةَ، لِتَكْذِيبِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، كَمَا دَمْدَمَ عَلَى ثَمُودَ، لِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا صَالِحًا. وَأَمَّا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها فَكَلَامٌ تَابِعٌ لِأَوَّلِهِ، لِقَوْلِهِ: فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها عَلَى سَبِيلِ الِاسْتِطْرَادِ، وليس من جواب القسم في شي. وَقِيلَ: هُوَ عَلَى التَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ بِغَيْرِ حَذْفٍ، وَالْمَعْنَى: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. أَفْلَحَ فَازَ. مَنْ زَكَّاها أَيْ مَنْ زَكَّى اللَّهُ نَفْسَهُ بِالطَّاعَةِ.

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Imam al-Qurṭubī menjelaskan bahwa QS. Asy-Syams [91]: 9 datang setelah rangkaian sumpah-sumpah kosmik (matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi). Menurut beliau, banyaknya sumpah tersebut menunjukkan betapa agung dan seriusnya pesan yang akan disampaikan, yakni tentang kondisi jiwa manusia.

Al-Qurṭubī menegaskan bahwa Allah menggunakan sumpah ini untuk menekankan bahwa nasib manusia bahagia atau celaka ditentukan oleh sikapnya terhadap jiwanya sendiri.

Imam al-Qurṭubī menjelaskan bahwa kata زَكَّاهَا (zakkāhā) mengandung dua makna utama:

  • At-Tathhīr (التطهير) – menyucikan jiwa dari dosa, kekufuran, kemunafikan, dan maksiat.

  • An-Numūw (النماء) – menumbuhkan jiwa dengan iman, amal saleh, dan akhlak mulia.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs menurut al-Qurṭubī bukan hanya membersihkan jiwa dari keburukan, tetapi juga mengembangkan potensi kebaikan secara berkelanjutan.

Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa kata أَفْلَحَ (aflaḥa) berarti keberuntungan yang sempurna dan abadi, mencakup:

  • keselamatan dari azab Allah,

  • ketenangan jiwa di dunia,

  • dan kebahagiaan akhirat.

Beliau menegaskan bahwa keberuntungan dalam ayat ini bersifat ukhrawi, bukan sekadar duniawi. Kekayaan, jabatan, atau popularitas tidak bernilai jika jiwa tetap kotor dan rusak.

Menurut Tafsir al-Qurṭubī, QS. Asy-Syams {91}: 9 menegaskan bahwa keberuntungan sejati manusia terletak pada keberhasilannya menyucikan jiwa. Tazkiyatun nafs mencakup proses pembersihan dari dosa dan penumbuhan akhlak mulia, dilakukan melalui usaha manusia yang disertai taufik Allah. Ayat ini menjadi fondasi etika spiritual Islam dan tujuan utama risalah kenabian.