QS. Al-Wāqi‘ah {56} : 79 :
لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۗ
“Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali para hamba (Allah) yang disucikan.”
QS. Al-Wāqi‘ah {56} : 79 sering dijadikan dasar penting dalam pembahasan kesucian (thahārah) terkait Al-Qur’an, khususnya mengenai hukum menyentuh mushaf. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia, sehingga interaksi dengannya menuntut kondisi kesucian tertentu. Dalam kajian fikih dan tafsir, ayat ini menjadi titik temu antara kesucian spiritual, adab ilmiah, dan hukum.
Penjelasan tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Wāqi‘ah {56} : 79 :
وَقَوْلُهُ: ﴿وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ﴾ أَيْ: وَإِنَّ هَذَا الْقَسَمَ الَّذِي أَقْسَمْتُ بِهِ لَقَسَمٌ عَظِيمٌ، لَوْ تَعْلَمُونَ(٢) عَظَمَتَهُ لَعَظَّمْتُمُ الْمُقْسِمَ بِهِ عَلَيْهِ، ﴿إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ﴾ أَيْ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ الَّذِي نَزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ لَكِتَابٌ عَظِيمٌ. ﴿فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ﴾ أَيْ: مُعَظَّمٌ فِي كِتَابٍ مُعَظَّمٍ مَحْفُوظٍ مُوَقَّرٍ.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُوسَى(٣) ، أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ، عَنْ حَكِيمٍ -هُوَ ابْنُ جُبَيْرٍ-عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ﴿لَا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ﴾ قَالَ: الْكِتَابُ الَّذِي فِي السَّمَاءِ.
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “al-muṭahharūn” pada ayat ini adalah para malaikat yang disucikan, bukan manusia. Menurut beliau, ayat ini berbicara tentang Al-Qur’an yang berada di Lauḥ al-Maḥfūẓ, yang hanya dapat disentuh oleh malaikat yang bersih dari dosa dan najis
Ibnu Katsir menguatkan pendapat ini dengan ayat sebelumnya:
فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ
“Dalam kitab yang terpelihara.”
Menurut beliau, ayat ini menunjukkan bahwa konteksnya adalah alam ghaib, bukan mushaf fisik di dunia.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Wāqi‘ah {56} : 79 menegaskan kemuliaan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang hanya disentuh oleh makhluk yang disucikan, yaitu para malaikat. Ayat ini tidak secara langsung menetapkan hukum fikih menyentuh mushaf, namun menjadi landasan nilai kesucian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an. Adapun kewajiban bersuci sebelum menyentuh mushaf ditegaskan melalui hadis Nabi ﷺ. Dengan demikian, ayat ini memperkaya konsep thahārah dalam Islam, baik secara lahiriah maupun batiniah.