Peran Al-Qur’an dalam penyucian akhlak umat


QS. Al-Jumu‘ah {62} : 2 :

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

QS. Al-Jumu‘ah {62} : 2 merupakan ayat sentral dalam kajian tazkiyatun nafs, karena secara eksplisit menyebut penyucian jiwa (tazkiyah) sebagai tugas utama Rasulullah ﷺ dalam membina umat. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan masyarakat Islam dimulai dari transformasi jiwa dan akhlak, bukan semata perubahan sistem atau struktur sosial.

Dalam kajian tematik Al-Qur’an, ayat ini menegaskan bahwa tazkiyatun nafs adalah fondasi kebangkitan umat.

Penjelasan tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jumu‘ah {62} : 2 :

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ﴾ الْأُمِّيُّونَ هُمُ: الْعَرَبُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: ٣١٤] وَتَخْصِيصُ الْأُمِّيِّينَ بِالذِّكْرِ لَا يَنْفِي مَنْ عَدَاهُمْ، وَلَكِنَّ الْمِنَّةَ عَلَيْهِمْ أَبْلَغُ وَآكَدُ، كَمَا فِي قَوْلِهِ: ﴿وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ﴾ [الزُّخْرُفِ: ٤٤] وَهُوَ ذِكْرٌ لِغَيْرِهِمْ يَتَذَكَّرُونَ بِهِ. وَكَذَا قَوْلُهُ: ﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ﴾ [الشُّعَرَاءِ: ٢١٤] وَهَذَا وَأَمْثَالُهُ لَا يُنَافِي قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا﴾ [الْأَعْرَافِ: ١٥٨] وَقَوْلَهُ: ﴿لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ﴾ [الْأَنْعَامِ: ١٩] وَقَوْلَهُ إِخْبَارًا عَنِ الْقُرْآنِ: ﴿وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ﴾ [هُودٍ: ١٧] ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى عُمُومِ بِعْثَتِهِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ إِلَى جَمِيعِ الْخَلْقِ(٢) أَحْمَرِهِمْ وَأَسْوَدِهِمْ، وَقَدْ قَدَّمْنَا تَفْسِيرَ ذَلِكَ فِي سُورَةِ الْأَنْعَامِ، بِالْآيَاتِ وَالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ، ولله الحمد والمنة.

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa QS. Al-Jumu‘ah [62]: 2 turun untuk menjelaskan nikmat besar Allah kepada bangsa Arab, yang sebelumnya dikenal sebagai al-ummiyyīn (tidak memiliki kitab suci dan tradisi kenabian formal).

Menurut Ibnu Katsir, penyebutan kondisi mereka “lafī ḍalālin mubīn” (dalam kesesatan yang nyata) menunjukkan bahwa kerusakan utama masyarakat Arab jahiliah adalah kerusakan jiwa dan akhlak, bukan sekadar kebodohan intelektual.

Ibnu Katsir menafsirkan al-ummiyyīn sebagai:

  • kaum Arab yang tidak memiliki kitab samawi sebelumnya,

  • mayoritas tidak pandai membaca dan menulis,

  • dan hidup dalam sistem nilai jahiliah.

Namun, menurut Ibnu Katsir, kebodohan mereka bukan sekadar buta huruf, melainkan buta nilai dan moral. Karena itu, solusi yang dihadirkan Allah bukan hanya pengajaran ilmu, tetapi tazkiyatun nafs terlebih dahulu.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Jumu‘ah {62} : 2 menegaskan bahwa tazkiyatun nafs merupakan inti misi Rasulullah ﷺ dalam membebaskan umat dari kesesatan. Penyucian jiwa mendahului dan menopang pengajaran ilmu, serta menjadi fondasi lahirnya masyarakat Islam yang berakhlak, adil, dan beradab. Ayat ini menegaskan bahwa perubahan peradaban harus dimulai dari perubahan jiwa manusia.