Al-Qashash {28} : 77
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan nasihat kaum beriman kepada Qarun, seorang tokoh yang diberi kekayaan melimpah namun menyalahgunakannya. Ayat ini mengandung prinsip hidup Islami yang sangat lengkap, mencakup orientasi akhirat, pemanfaatan dunia, etika sosial, dan larangan merusak tatanan kehidupan.
وَقَوْلُهُ: ﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا﴾ أَيِ: اسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدار الآخرة. ﴿وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا﴾ أَيْ: مِمَّا أَبَاحَ اللَّهُ فِيهَا(٥) مِنَ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ وَالْمَنَاكَحِ، فَإِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حَقًّا، وَلِزَوْرِكِ عَلَيْكَ حَقًّا، فَآتِ كُلَّ ذِي حَقِّ حَقَّهُ.
﴿وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾ أَيْ: أَحْسِنْ إِلَى خَلْقِهِ كَمَا أَحْسَنَ هُوَ إِلَيْكَ ﴿وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ﴾ أَيْ: لَا تكنْ هِمَّتُكَ بِمَا أَنْتَ فِيهِ أَنْ تُفْسِدَ بِهِ الْأَرْضَ(٦) ، وَتُسِيءَ إِلَى خَلْقِ اللَّهِ ﴿إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾ .
Ibnu Katsir menegaskan bahwa frasa “wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāral-ākhirah” menunjukkan bahwa harta dan kekayaan adalah sarana, bukan tujuan. Nikmat dunia harus diarahkan untuk mencari ridha Allah dan keselamatan akhirat, melalui zakat, sedekah, dan amal kebaikan lainnya.
Makna “Jangan Melupakan Bagianmu di Dunia”
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Islam tidak melarang menikmati dunia, selama berada dalam batas yang dibenarkan syariat. Yang dilarang adalah:
-
menjadikan dunia sebagai tujuan utama,
-
kesombongan,
-
dan penyalahgunaan nikmat.
Ayat ini menunjukkan keseimbangan (wasathiyyah) antara kebutuhan spiritual dan kebutuhan jasmani.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77 mengajarkan bahwa:
-
Dunia adalah sarana menuju akhirat
-
Nikmat harus disyukuri dengan amal dan kebaikan
-
Kerusakan adalah akibat kesombongan dan penyalahgunaan nikmat
-
Menjaga keseimbangan hidup dan lingkungan adalah kewajiban iman
Ayat ini menegaskan bahwa kebersihan moral, sosial, dan lingkungan merupakan bagian integral dari ajaran Islam.