{"id":41,"date":"2026-01-23T15:27:53","date_gmt":"2026-01-23T15:27:53","guid":{"rendered":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/kerugian-akibat-jiwa-yang-tercemar\/"},"modified":"2026-01-23T15:27:53","modified_gmt":"2026-01-23T15:27:53","slug":"kerugian-akibat-jiwa-yang-tercemar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/kerugian-akibat-jiwa-yang-tercemar\/","title":{"rendered":"Kerugian akibat jiwa yang tercemar"},"content":{"rendered":"<p>QS. Asy-Syams {91} : 10 :<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"margin-left: 36.0pt;text-align: right\" align=\"right\"><span dir=\"RTL\" lang=\"AR-SA\">\u0648\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u062e\u064e\u0627\u0628\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062f\u064e\u0633\u0651\u0670\u0649\u0647\u064e\u0627\u06d7<\/span><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"margin-left: 36.0pt\">\u201cdan<i> sungguh rugi orang yang mengotorinya\u201d<\/i><\/p>\n<p dir=\"ltr\">QS. Asy-Syams ayat 10 merupakan antitesis langsung dari ayat sebelumnya (QS. Asy-Syams [91]: 9). Jika ayat 9 menjanjikan keberuntungan (al-fal\u0101\u1e25) bagi orang yang menyucikan jiwanya, maka ayat 10 menegaskan kerugian total (al-khusr\u0101n) bagi orang yang membiarkan jiwanya kotor dan rusak. Dalam kajian tematik, kedua ayat ini membentuk kerangka dasar tazkiyatun nafs: antara penyucian dan perusakan jiwa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam <em data-start=\"1065\" data-end=\"1094\">Al-J\u0101mi\u2018 li A\u1e25k\u0101m al-Qur\u2019\u0101n<\/em>, Imam al-Qur\u1e6dub\u012b menjelaskan bahwa ayat ini masih berada dalam rangkaian sumpah-sumpah Allah yang menunjukkan keseriusan pesan moralnya. Menurut beliau, ayat 9 dan 10 adalah jawaban atas sumpah-sumpah tersebut, yang menggambarkan dua kemungkinan akhir perjalanan manusia: keberuntungan atau kerugian, tergantung sikapnya terhadap jiwa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ayat ke-10 menegaskan bahwa kegagalan manusia adalah akibat pilihan sadar untuk merusak jiwanya sendiri, bukan karena paksaan dari luar.<\/p>\n<p data-start=\"1645\" data-end=\"1791\">Imam al-Qur\u1e6dub\u012b memberikan perhatian khusus pada kata <strong data-start=\"1699\" data-end=\"1722\">\u062f\u064e\u0633\u0651\u064e\u0627\u0647\u064e\u0627 <\/strong>(dass\u0101h\u0101). Secara bahasa, kata ini berasal dari <em data-start=\"1761\" data-end=\"1776\">dass\u0101\u2013yaduss\u016b<\/em>, yang berarti:<\/p>\n<ul data-start=\"1792\" data-end=\"1869\">\n<li data-start=\"1792\" data-end=\"1809\">\n<p data-start=\"1794\" data-end=\"1809\">menyembunyikan,<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"1810\" data-end=\"1821\">\n<p data-start=\"1812\" data-end=\"1821\">mengubur,<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"1822\" data-end=\"1869\">\n<p data-start=\"1824\" data-end=\"1869\">menutup sesuatu yang bernilai dengan kotoran.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"1871\" data-end=\"2182\">Menurut al-Qur\u1e6dub\u012b, makna <em data-start=\"1897\" data-end=\"1906\">dass\u0101h\u0101<\/em> menunjukkan bahwa jiwa manusia pada dasarnya memiliki potensi kesucian, namun seseorang menutupi potensi itu dengan dosa, maksiat, dan hawa nafsu. Dengan kata lain, pengotoran jiwa bukan proses instan, tetapi akumulasi perbuatan buruk yang disengaja dan berulang.<\/p>\n<p data-start=\"2239\" data-end=\"2293\">Kata <strong data-start=\"2244\" data-end=\"2261\">\u062e\u064e\u0627\u0628\u064e <\/strong>(kh\u0101ba) menurut al-Qur\u1e6dub\u012b menunjukkan:<\/p>\n<ul data-start=\"2294\" data-end=\"2392\">\n<li data-start=\"2294\" data-end=\"2312\">\n<p data-start=\"2296\" data-end=\"2312\">kegagalan total,<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2313\" data-end=\"2349\">\n<p data-start=\"2315\" data-end=\"2349\">kerugian yang tidak dapat ditebus,<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2350\" data-end=\"2392\">\n<p data-start=\"2352\" data-end=\"2392\">dan kekecewaan yang berujung penyesalan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2394\" data-end=\"2429\">Kerugian ini mencakup tiga dimensi:<\/p>\n<ol data-start=\"2430\" data-end=\"2594\">\n<li data-start=\"2430\" data-end=\"2481\">\n<p data-start=\"2433\" data-end=\"2481\">Kerugian spiritual \u2013 jauhnya hati dari Allah<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2482\" data-end=\"2521\">\n<p data-start=\"2485\" data-end=\"2521\">Kerugian moral \u2013 rusaknya akhlak<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2522\" data-end=\"2594\">\n<p data-start=\"2525\" data-end=\"2594\">Kerugian ukhrawi \u2013 ancaman azab dan hilangnya kebahagiaan akhirat<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"2596\" data-end=\"2728\">Al-Qur\u1e6dub\u012b menegaskan bahwa ayat ini mengandung peringatan keras (wa\u2018\u012bd) bagi siapa pun yang mengabaikan proses tazkiyatun nafs.<\/p>\n<p data-start=\"2596\" data-end=\"2728\">Menurut Tafsir al-Qur\u1e6dub\u012b, QS. Asy-Syams {91} : 10 menegaskan bahwa kerugian sejati manusia terletak pada kegagalannya menjaga kesucian jiwa. Pengotoran jiwa terjadi ketika manusia menutup potensi kebaikan dengan dosa dan hawa nafsu. Ayat ini melengkapi konsep <em data-start=\"4663\" data-end=\"4680\">tazkiyatun nafs<\/em> sebagai proses sadar dan berkelanjutan yang menentukan nasib manusia di dunia dan akhirat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>QS. Asy-Syams {91} : 10 : \u0648\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u062e\u064e\u0627\u0628\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062f\u064e\u0633\u0651\u0670\u0649\u0647\u064e\u0627\u06d7 \u201cdan sungguh rugi orang yang mengotorinya\u201d QS. Asy-Syams ayat 10 merupakan antitesis langsung dari ayat sebelumnya (QS. Asy-Syams [91]: 9). Jika ayat 9 menjanjikan keberuntungan (al-fal\u0101\u1e25) bagi orang yang menyucikan jiwanya, maka ayat 10 menegaskan kerugian total (al-khusr\u0101n) bagi orang yang membiarkan jiwanya kotor dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":59,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-41","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kerugian-akibat-jiwa-yang-tercemar"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/users\/59"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/ayat-kebersihan-khafiz\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}