QS. Al-Baqarah [2]: 222


QS. Al-Baqarah [2]: 222

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Terjemah:

Dan mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah suatu kotoran.” Maka, jauhilah para istri (dari melakukan hubungan intim) pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat  dan  orang-orang yang menyucikan diri.

Penjelasan:

Ayat ini tidak hanya menyebut bahwa Allah menerima taubat, tetapi Allah mencintai orang yang bertaubat. Kata “yuḥibbu” (mencintai) menunjukkan kedudukan mulia: orang yang tadinya ahli dosa, ketika ia bertaubat, bukan hanya diampuni, tapi justru dicintai oleh Allah. Ini menumbuhkan harapan yang luar biasa: bahwa bahkan dari masa lalu yang kelam, seseorang bisa bangkit menjadi hamba kesayangan Allah.

Pesan-pesan utama:

  1. Allah tidak hanya menerima taubat, tetapi juga mencintai hamba-hamba yang bertaubat dengan tulus dan memperbaiki dirinya.

  2. Kebersihan lahir dan batin sama pentingnya dalam Islam; menyucikan diri dari dosa dan najis merupakan tanda keimanan yang sejati.

  3. Taubat yang sungguh-sungguh menjadikan seseorang tidak hanya diampuni, tetapi juga dicintai dan dimuliakan oleh Allah.