QS. Al-Hajj [22]: 60
ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِۦ ثُمَّ بُغِىَ عَلَيْهِ لَيَنصُرَنَّهُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌۭ
Terjemah:
Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang ditimpakan kepadanya, lalu ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
Penjelasan:
Allah memperbolehkan membalas secara adil, namun menutup dengan sifat-Nya yang Maha Pemaaf. Ini menjadi isyarat bahwa memaafkan adalah jalan yang lebih utama. Dengan meneladani sifat pemaaf Allah, seorang hamba justru semakin dekat dengan ampunan-Nya.
Pesan-pesan Utama:
-
Keadilan dibolehkan, tetapi memaafkan lebih utama. Allah membolehkan membalas kezaliman dengan kadar yang seimbang, namun menutup ayat ini dengan sifat-Nya yang ‘Afuw (Maha Pemaaf) dan Ghafur (Maha Pengampun). Ini menunjukkan bahwa jalan memaafkan adalah bentuk ketakwaan yang lebih tinggi dan lebih dicintai oleh Allah.
-
Meneladani sifat Allah membawa kepada ampunan. Dengan memilih untuk memaafkan dan menahan diri dari balas dendam, seseorang meneladani sifat Allah yang penuh kasih dan pengampun. Sikap ini menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan dari-Nya.
-
Harapan bagi yang dizalimi. Ayat ini juga memberi harapan bahwa siapa pun yang teraniaya dan tetap bersabar serta tidak melampaui batas, akan mendapat pertolongan langsung dari Allah. Pertolongan itu tidak hanya berupa kemenangan di dunia, tetapi juga ampunan dan kemuliaan di akhirat.