QS. Al-Baqarah [2]: 256
الْبَقَرَةِ [٢]: ٢٥٦
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan (Kemenag RI):
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada ṭāghūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Penjelasan:
Ayat ini merupakan landasan teologis bagi prinsip kebebasan beragama dalam Islam. Frasa “lā ikrāha fī al-dīn” menegaskan bahwa keimanan tidak boleh lahir dari tekanan atau paksaan, melainkan dari kesadaran dan kebebasan hati nurani. Dalam kerangka hak asasi manusia, ayat ini sejalan dengan prinsip kebebasan berkeyakinan sebagai hak kodrati setiap individu. Islam menghormati kebebasan manusia dalam memilih jalan kebenaran karena keimanan sejati hanya bermakna jika lahir dari kesadaran batin, bukan keterpaksaan. Dengan demikian, Islam memandang kebebasan beragama bukan sebagai ancaman terhadap keimanan, tetapi sebagai manifestasi penghormatan terhadap martabat dan akal manusia.