QS. Āli ‘Imrān [3]: 159
آلِ عِمْرَان [٣]: ١٥٩
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Terjemahan (Kemenag RI):
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
Penjelasan:
Ayat ini menegaskan prinsip musyawarah (syūrā) sebagai landasan etika sosial dan politik dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk tidak bersikap otoriter, melainkan melibatkan umat dalam pengambilan keputusan. Musyawarah dalam Islam adalah ruang partisipatif yang menjunjung kebebasan berpendapat dengan tanggung jawab moral dan akhlak. Dalam konteks hak asasi manusia, ayat ini menjadi dasar bagi freedom of speech dan participation rights — hak setiap individu untuk menyampaikan pandangan secara terbuka, selama dilakukan dengan adab, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Ini juga menunjukkan bahwa kebebasan berbicara dalam Islam bersumber dari kasih dan rahmat, bukan dari konflik atau pertentangan kepentingan.