Qs. Al-Anbiyā’ (21):36–37


Qs. Al-Anbiyā’ (21):36–37

وَإِذَا رَءَاكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا ٱلَّذِى يَذْكُرُ ءَالِهَتَكُمْ وَهُم بِذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ هُمْ كَٰفِرُونَ

Artinya: Dan apabila orang-orang kafir itu melihat engkau (Muhammad), mereka hanya memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. (Mereka mengatakan), “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” Padahal mereka orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pengasih. (Qs. Al-Anbiyā’ (21):36)

خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ سَأُو۟رِيكُمْ ءَايَٰتِى فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

Artinya: Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya. (Qs. Al-Anbiyā’ (21):37)

Penjelasan;

Ayat ini menggambarkan dua sikap manusia:
pertama, orang kafir yang mengejek Rasul karena dakwahnya menyeru kepada tauhid dan dzikir kepada Allah;
kedua, sifat tergesa-gesa manusia yang ingin segera melihat bukti atau azab tanpa mau merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Dalam konteks dzikir dalam shalat dan ibadah, ayat ini mengingatkan bahwa dzikir sejati tidak hanya di lisan, tetapi dalam kesadaran hati yang tunduk dan tenang di hadapan Allah. Shalat dan ibadah menjadi sarana dzikir yang menguatkan hubungan dengan-Nya dan menjauhkan dari sikap tergesa atau sombong seperti orang kafir.

Pesan-Pesan lainnya:

  1. Dzikir menumbuhkan keteguhan hati.
  2. Ibadah bukan sekadar ritual, tetapi kesadaran tauhid.
  3. Hindari tergesa-gesa dalam urusan iman.
  4. Ejekan bukan ukuran kebenaran.
  5. Tanda-tanda Allah akan tampak bagi yang sabar dan terus berdzikir.