Pernyataan penutup


 

Ketiadaan Na-EDTA dalam media GA diduga menjadi salah satu faktor penyebab penurunan baik dalam produksi listrik maupun pertumbuhan Spirulina sp. Na-EDTA berfungsi sebagai agen pengkelat yang menjaga unsur-unsur mikro seperti Fe³⁺, Zn²⁺, dan Mn²⁺ tetap berada dalam bentuk ionik terlarut yang dapat diserap oleh sel mikroalga. Tanpa adanya EDTA, unsur-unsur tersebut cenderung mengendap atau membentuk senyawa kompleks yang tidak larut, sehingga menurunkan ketersediaan nutrien penting bagi pertumbuhan. Kondisi ini tidak hanya menghambat proses metabolisme dan fotosintesis, tetapi juga berpotensi menurunkan efisiensi sistem bio-photovoltaic (BPV) akibat terbatasnya sumber elektron dari aktivitas biologis. Penelitian oleh Sun et al. (2018) menunjukkan bahwa penambahan EDTA dalam media kultur mikroalga bersama fulvic acid dapat meningkatkan biomassa hingga 36,4% serta meningkatkan produktivitas lipid hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan kontrol tanpa EDTA. Rendahnya nilai tegangan dan pertumbuhan yang diamati pada media GA dalam penelitian ini kemungkinan berkaitan langsung dengan ketiadaan Na-EDTA sebagai penstabil unsur mikro

Daya yang dihasilkan oleh perangkat bio-photovoltaic (BPV) sangat dipengaruhi oleh bahan penyusun anoda, yang memiliki tingkat konduktivitas berbeda-beda. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sistem BPV memiliki berbagai perbedaan desain, baik dari segi keberadaan proton-exchange membrane (PEM) maupun jenis elektroda yang digunakan (Anam et al. 2021). Penelitian terkait rapat daya pada sistem biofotoviltaik sudah dilakukan. Liu dan Choi (2017) melaporkan nilai rapat daya puncak sebesar 0,044 mW/cm² pada sistem BPV mikro (micro-BSC) yang menggunakan PEM. Perbedaan nilai ini mencerminkan adanya perbedaan performa yang disebabkan oleh perbedaan desain sistem BPV, termasuk konfigurasi elektroda dan membran yang digunakan. Produksi energi listrik pada sistem BPV bergantung pada efisiensi transfer elektron dari hasil fotosintesis mikroorganisme menuju elektroda anoda. Oleh karena itu, desain sistem BPV yang optimal termasuk pemilihan elektroda, volume chamber, jenis mikroorganisme, serta media kultur merupakan faktor penting dalam menentukan performa dan efisiensi daya listrik yang dihasilkan (Hasanah et al. 2022).