Nilai pH Kultivasi Spirulina sp.


Parameter lingkungan yang diamati mencakup ukuran keasaman atau kebasaan, yaitu pH. Nilai pH merupakan derajat keasaman suatu larutan yang berperan penting dalam memengaruhi pertumbuhan Spirulina sp., karena menentukan ketersediaan nutrien dan aktivitas metabolisme sel (Cardoso et al. 2021).

Media berbeda memengaruhi nilai pH selama kultivasi dengan nilai:

  1. Media Zarrouk sebesar 9,0 ± 0,000 hingga 10,0 ± 0,000,
  2. Media BG-11 sebesar 8,5 ± 0,707 hingga 8,8 ± 0,000, 
  3. Media GA dari 10,0 ± 0,000 hingga 9,0 ± 0,000.

Perubahan nilai pH pada awal kultivasi menunjukkan proses adaptasi mikroalga terhadap kondisi media, dengan kestabilan pH pada hari ke-2 tercatat pada media Zarrouk dan GA, sedangkan media BG-11 mencapai kestabilan pada hari ke-4. Rentang pH yang sempit pada media BG-11 menunjukkan kondisi kultur yang stabil. Stabilitas pH meningkat pada fase eksponensial seiring naiknya aktivitas fotosintesis Spirulina sp., sedangkan fluktuasi terjadi pada fase lag akibat rendahnya metabolisme sel (Ismaiel et al. 2016). Kondisi pH yang stabil penting untuk efisiensi sistem biofotovoltaik dan keberlangsungan kultur.

Fluktuasi pH pada media kultur dipengaruhi oleh komposisi penyangga masing-masing media, seperti asam amino dan fulvic acid pada media GA serta sistem karbonat (NaHCO₃ dan Na₂CO₃) pada media Zarrouk dan BG-11. Seluruh media mempertahankan pH dalam rentang optimal pertumbuhan Spirulina sp. (9,0–10,5), yang mendukung ketersediaan nutrien dan aktivitas metabolisme sel. Nilai pH yang lebih tinggi pada media Zarrouk berkaitan dengan tingginya konsentrasi NaHCO₃ sebagai sumber karbon anorganik dan kondisi basa yang sesuai dengan sifat alkalifilik Spirulina sp., sehingga mendukung peningkatan fotosintesis dan pertumbuhan sel (Tedesco et al. 2013; Cardoso et al. 2021).