Nilai rapatan daya merupakan parameter yang menunjukkan jumlah energi listrik yang dihasilkan atau digunakan per satuan luas permukaan. Nilai ini mencerminkan efisiensi sistem dalam memproduksi energi listrik dibandingkan dengan luas elektroda, dan dinyatakan dalam satuan Watt per meter persegi (W/m²). Semakin tinggi nilai kerapatan daya, maka semakin besar energi yang mampu dihasilkan dari luas elektroda yang tersedia (Liu dan Choi 2017).

Hasil pengukuran rapat daya pada kultivasi Spirulina sp. selama masa kultur 15 hari menunjukkan rentang nilai:
- Media Zarrouk sebesar 4,489 ± 0,576 mW/m² hingga 6,523 ± 0,061 mW/m² dengan nilai puncak sebesar 6,738 ± 0,024 mW/m².
- Media BG-11 memiliki rentang antara 4,668 ± 0,420 mW/m² hingga 6,413 ± 0,078 mW/m² dengan nilai puncak sebesar 6,698 ± 0,057 mW/m².
- Media GA menunjukkan nilai antara 3,368 ± 0,041 mW/m² hingga 4,312 ± 0,594 mW/m² dengan nilai puncak sebesar 6,529 ± 0,004 mW/m².
Nilai tertinggi dicapai oleh media Zarrouk pada hari ke-9, yang menunjukkan efisiensi sistem tertinggi dalam konversi elektron fotosintesis menjadi daya listrik. Pola peningkatan rapat daya mengikuti tren hasil tegangan dan arus yang mendukung kestabilan sistem biofotovoltaik.
Penurunan nilai rapat daya pada media GA terjadi seiring dengan penurunan nilai OD, menunjukkan hubungan langsung antara kepadatan sel dan daya listrik yang dihasilkan. Grafik OD yang menurun pada media GA menunjukkan penurunan densitas sel yang berdampak pada jumlah elektron hasil fotosintesis. Performa sistem bioenergi dipengaruhi oleh fase pertumbuhan mikroalga dan kualitas media kultur. Penurunan nilai daya diduga disebabkan oleh penurunan biomassa serta perubahan komposisi media yang mengurangi jumlah ion elektrolit dalam sistem. Kinerja media GA dinilai kurang optimal dalam mempertahankan kestabilan fase pertumbuhan hingga akhir masa kultivasi, yang berdampak pada menurunnya efisiensi konversi bioenergi.