Salinitas merupakan faktor lingkungan penting yang memengaruhi pertumbuhan dan metabolisme mikroalga selama proses kultivasi. Konsentrasi ion-ion utama dalam media menentukan tingkat salinitas dan berperan dalam menjaga tekanan osmotik seluler. Nilai salinitas yang tinggi mencerminkan kandungan ion-ion seperti Na⁺, Cl⁻, dan K⁺ yang tinggi dalam sistem (Kelly et al. 2024).

Salinitas selama masa kultivasi Spirulina sp. menunjukkan tren peningkatan pada seluruh media yang digunakan. Rentang salinitas yang didapat diantaranya :
- Media Zarrouk tercatat sebesar 15,8 ± 0,71 hin gga 24,7 ± 0,00 ppt dengan nilai puncak sebesar 24,7 ± 0,00 ppt pada hari ke-14.
- Media BG-11 memiliki rentang antara 3,7 ± 1,41 hingga 10,0 ± 0,00 ppt dengan nilai puncak sebesar 10,0 ± 0,00 ppt pada hari ke-13.
- Media GA menunjukkan rentang salinitas 5,2 ± 0,00 hingga 12,7 ± 0,71 ppt dengan nilai puncak sebesar 12,7 ± 0,71 ppt juga pada hari ke-13.
Ketiga media secara konsisten mengalami peningkatan salinitas selama 15 hari masa kultivasi, namun tetap berada dalam kisaran yang masih mendukung pertumbuhan Spirulina sp. Widawati et al. (2022) melaporkan Rentang salinitas 4 hingga 27 ppt masih dianggap optimal untuk pertumbuhan Spirulina sp. Salinitas yang terlalu rendah dapat menyebabkan stres hipotonik dan lisis sel, sedangkan salinitas berlebih dapat mengganggu aktivitas enzimatik akibat tekanan osmotik tinggi yang menghambat fungsi fisiologis sel.
Media Zarrouk memiliki salinitas paling tinggi dibandingkan GA dan BG-11 akibat tingginya kandungan senyawa ionik, terutama NaHCO₃, NaCl, dan KCl, yang meningkatkan konsentrasi ion terlarut dan tekanan osmotik. Media GA dan BG-11 menunjukkan salinitas lebih rendah karena dominasi bahan organik pada GA serta konsentrasi garam anorganik yang relatif rendah pada BG-11. Penambahan senyawa berbasis natrium berkontribusi langsung terhadap peningkatan salinitas media kultur mikroalga (Batac et al. 2020).
Pola peningkatan salinitas secara bertahap dan konsisten selama kultivasi mencerminkan pengaruh evaporasi serta aktivitas metabolik mikroalga. Sistem kultur terbuka menyebabkan akumulasi salinitas dari 35 ppt hingga 233 ppt akibat penguapan air dan pengisian ulang larutan (Ishika et al. 2018). Sistem biofotovoltaik pada ketiga media menggunakan jembatan garam sebagai penyeimbang ion dalam proses redoks. Komponen jembatan garam dan buffer dapat memengaruhi salinitas media kultur melalui difusi ion seperti Na⁺ dan Cl⁻ ke dalam larutan. Konsentrasi sedang, seperti NaCl 1 M atau KCl 0,5 M, memungkinkan difusi tetap terjadi, meskipun dampaknya terhadap salinitas relatif kecil. Difusi ion dari jembatan garam berperan dalam menjaga keseimbangan muatan sistem, terutama selama kultivasi jangka panjang. Kajian oleh Barry et al. (2013) menunjukkan bahwa tingkat difusi ion bergantung pada konsentrasi dan durasi penggunaan, dengan konsentrasi rendah cenderung memberikan dampak minimal terhadap perubahan kimia larutan.