Syukur dan Etika Ekologis


Al-Mu`minun [23]:18-19

وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍ ۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَۚ

فَاَنْشَأْنَا لَكُمْ بِهٖ جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍۘ لَكُمْ فِيْهَا فَوَاكِهُ كَثِيْرَةٌ وَّمِنْهَا تَأْكُلُوْنَۙ 

Terjemah:

Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran. Lalu, Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya Kami Mahakuasa melenyapkannya.

Lalu, dengan (air) itu Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur. Di sana kamu mendapatkan buah-buahan yang banyak dan dari sebagiannya itu kamu makan.

Kandungan Ayat:

  1. Tanda Kekuasaan Allah dalam Air
    Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berkuasa menurunkan air dari langit dengan ukuran yang dibutuhkan makhluk-Nya. 
  2. Penyimpanan Air di Bumi
    Allah menyimpan air tersebut di bumi sebagai sumber yang bisa digali dan dimanfaatkan oleh manusia dan hewan ternak. 
  3. Ancaman dan Rahmat
    Allah menekankan bahwa Dia berkuasa melenyapkan air itu kapan saja, tetapi Dia tidak melakukannya karena rahmat-Nya kepada para makhluk. Ayat ini juga menjadi peringatan bagi manusia untuk bersyukur atas nikmat air dan merenungkan jika air itu hilang. 
  4. Manfaat Air dan Buah-buahan 
    Ayat ini menjelaskan bahwa air yang disimpan di bumi digunakan untuk menumbuhkan kebun-kebun, seperti kebun kurma dan anggur.
  5. Rezeki dari Alam
    Dari kebun-kebun tersebut, manusia memperoleh berbagai jenis buah-buahan yang melimpah, yang merupakan sumber makanan mereka.
  6. Bukti Karunia Allah
    Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah memelihara makhluk-Nya dengan menyediakan sumber makanan melalui hasil bumi yang disiram air, sebagai bentuk karunia dan tanda kebesaran-Nya.