QS. Saba’: 15-16
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ ١٥ فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ ١٦
Artinya:
15. Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.”
16. Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon asal (sejenis cemara) dan sedikit pohon sidir (bidara).
Pesan-pesan utama:
Kaum Saba’ diberikan nikmat yang sangat besar: negeri yang subur makmur dan Tuhan yang Maha Pengampun. Mereka hanya diperintahkan untuk makan rezeki yang halal dan bersyukur. Namun ketika mereka berpaling dan kufur nikmat, Allah menghancurkan sumber kemakmuran mereka (bendungan Ma’rib) dan mengubah negeri subur menjadi tandus. Inilah pelajaran bahwa syukur menjaga nikmat, sementara kufur mendatangkan bencana.
-
Syukur adalah pelindung nikmat – Setiap nikmat membutuhkan syukur untuk menjaganya
-
Kufur nikmat mendatangkan azab – Berpaling dari perintah Allah akan mengundang bencana
-
Peradaban bisa runtuh karena maksiat – Kehancuran fisik sering diawali oleh kehancuran moral
-
Allah memberi peringatan sebelum azab – Perintah untuk bersyukur adalah bentuk peringatan
Kisah ini sangat relevan sebagai peringatan bagi peradaban modern yang sering lupa bersyukur atas kemajuan yang dicapai, dan menganggapnya sebagai hasil usaha manusia semata.