QS. Yunus: 12
وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًاۚ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٢
Artinya:
Apabila manusia ditimpa kesusahan, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Namun, setelah Kami hilangkan kesusahan itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) kesusahan yang telah menimpanya. Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas itu apa yang selalu mereka kerjakan.
Pesan-pesan utama:
Manusia memiliki kecenderungan alamiah: ketika susah, mereka sangat rajin berdoa dalam segala keadaan; namun ketika sudah senang, mereka melupakan Allah seolah-olah tidak pernah meminta pertolongan. Bagi orang-orang yang melampaui batas, perbuatan maksiat mereka justru terasa indah karena kebiasaan yang terus menerus.
Pelajaran yang Dapat Diambil:
-
Konsistensi dalam Ibadah: Ibadah tidak hanya saat susah, tetapi juga saat senang
-
Bersyukur: Mengingat pertolongan Allah dan bersyukur ketika sudah terbebas dari kesulitan
-
Mawas Diri: Waspada terhadap godaan untuk kembali kepada kelalaian setelah mendapat nikmat
-
Evaluasi Diri: Memeriksa apakah kita termasuk orang yang “musiman” dalam beribadah
Ayat ini merupakan cermin bagi setiap muslim untuk introspeksi diri: apakah kita hanya mengingat Allah saat susah, lalu melupakan-Nya saat senang?