حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin Amir berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy dari Al A’masy dari Sa’id bin Abdullah bin Juraij dari Abu Barzah Al Aslami ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengumpat seorang muslim dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Sebab siapa saja yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Maka siapa saja yang Allah telah mencari-cari kesalahannya, Allah tetap akan menampakkan kesalahannya meskipun ia ada di dalam rumahnya.”
(Abu Dawud)
- Kandungan Hadis
Hadis ini memberikan peringatan keras agar seorang muslim tidak menjadikan kesalahan dan kekurangan orang lain sebagai objek pencarian atau konsumsi. Islam melarang sikap tatabbu’ al-‘awrat (mencari-cari aib), karena hal tersebut dapat merusak kehormatan seseorang, memutus hubungan persaudaraan, dan menimbulkan kebencian di tengah masyarakat.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan adanya balasan yang setimpal. Orang yang gemar membuka aib orang lain akan mendapatkan balasan berupa terbukanya aib dirinya sendiri oleh Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kehormatan orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia seorang muslim.
- Korelasi dengan Etika Bermedia Sosial
Hadis ini sangat relevan dengan perkembangan media sosial saat ini. Banyak pengguna media sosial yang sengaja mencari kesalahan tokoh, selebritas, maupun masyarakat umum untuk kemudian menyebarkannya kepada publik. Tidak sedikit pula yang melakukan stalking, membocorkan data pribadi (doxing), menyebarkan tangkapan layar percakapan, atau mengungkap masa lalu seseorang demi mendapatkan perhatian.
Implementasi hadis ini dalam etika bermedia sosial antara lain:
- Tidak mencari-cari kesalahan atau aib orang lain untuk dijadikan bahan unggahan.
- Tidak menyebarkan informasi pribadi tanpa izin pemiliknya.
- Menghindari praktik doxing, stalking, dan penyebaran tangkapan layar percakapan pribadi.
- Menjaga kehormatan dan privasi setiap pengguna media sosial.
- Mengutamakan sikap husnuzan (berprasangka baik) daripada mencari kelemahan orang lain.
Dengan mengamalkan hadis ini, seorang muslim akan lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Ia tidak menjadikan ruang digital sebagai tempat untuk mempermalukan orang lain, tetapi sebagai sarana menjaga kehormatan, mempererat ukhuwah, dan menyebarkan nilai-nilai akhlak Islam.