حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
رَوَاهُ الْبُخَارِ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.”
(HR.Bukhori)
- Kandungan Hadis
Hadis ini merupakan salah satu prinsip utama dalam menjaga lisan. Rasulullah ﷺ mengaitkan kesempurnaan iman dengan kemampuan seseorang mengendalikan perkataan. Seorang muslim diperintahkan untuk hanya mengucapkan perkataan yang baik, benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain. Apabila tidak mampu melakukan hal tersebut, maka diam lebih utama daripada mengucapkan sesuatu yang dapat mendatangkan dosa.
Perkataan yang baik meliputi nasihat, motivasi, ilmu, doa, salam, serta segala bentuk ucapan yang membawa manfaat. Sebaliknya, perkataan yang mengandung kebohongan, fitnah, hinaan, provokasi, atau kata-kata kasar harus dihindari.
- Korelasi dengan Etika Bermedia Sosial
Dalam konteks media sosial, hadis ini menjadi pedoman penting bagi setiap pengguna internet. Tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan yang dikirim memiliki kedudukan yang sama dengan ucapan lisan. Oleh karena itu, setiap pengguna media sosial harus mempertimbangkan manfaat dan dampak dari setiap kata yang ditulis sebelum dipublikasikan.
Implementasi hadis ini dalam etika bermedia sosial antara lain:
- Menulis komentar yang sopan dan membangun.
- Menghindari ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi.
- Tidak ikut menyebarkan komentar negatif yang dapat memicu konflik.
- Berpikir sebelum mengunggah atau membalas suatu komentar.
- Memilih untuk diam apabila tidak memiliki informasi yang benar atau tidak dapat memberikan manfaat.
Dengan mengamalkan hadis ini, media sosial akan menjadi ruang komunikasi yang lebih santun dan produktif. Seorang muslim akan menjadikan setiap unggahan dan komentarnya sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan sebagai alat untuk menyakiti atau merendahkan orang lain.