1. QS.At-Tin : 2
وَطُورِ سِينِينَ ﴿٢﴾
Artinya: Dan demi bukit Sinai
Tafsiran jalalain surat At-Tin ayat 2
تفسير الجلالين — المحلّي والسيوطي (٨٦٤، ٩١١ هـ)
﴿وَطُورِ سِینِینَ﴾ [التين ٢]
﴿وطُور سِينِينَ﴾ الجَبَل الَّذِي كَلَّمَ اللَّه تَعالى عَلَيْهِ مُوسى ومَعْنى سِينِينَ المُبارَك أوْ الحَسَن بِالأَشْجارِ المُثْمِرَة
Gunung di mana Allah berbicara kepada Musa AS. “Sînîn” bermakna mubarak atau indah karena pepohonan yang berbuah lebat.
2. QS.Al-Qashas : 46
Bukit Tursina juga disebutkan dalam surat Al-Qashash ayat 46, sebagai tempat turunnya peringatan pada Nabi Musa AS untuk disampaikan ke kaumnya
وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَٰكِن رَّحْمَةً مِّن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿٤٦﴾
Artinya: “Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Sinai ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu agar mereka ingat.”
Mengutip buku Fi Zhilal Al-Qur’an oleh Sayyid Quthb menjelaskan, Bukit Tursina atau Gunung Sinai adalah tempat yang sangat penting bagi Nabi Musa AS. Sebab tempat ini menjadi lokasi terjadinya dialog antara Nabi Musa dengan Allah SWT.
Tafsiran jalalain pada surat Al-Qashash ayat 46
تفسير الجلالين — المحلّي والسيوطي (٨٦٤، ٩١١ هـ)
﴿وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلطُّورِ إِذۡ نَادَیۡنَا وَلَـٰكِن رَّحۡمَةࣰ مِّن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوۡمࣰا مَّاۤ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِیرࣲ مِّن قَبۡلِكَ لَعَلَّهُمۡ یَتَذَكَّرُونَ﴾ [القصص ٤٦]
﴿وما كُنْت بِجانِبِ الطُّور﴾ الجَبَل ﴿إذْ﴾ حِين ﴿نادَيْنا﴾ مُوسى أنْ خُذْ الكِتاب بِقُوَّةٍ ﴿ولَكِنْ﴾ أرْسَلْناك ﴿رَحْمَة مِن رَبّك لِتُنْذِر قَوْمًا ما أتاهُمْ مِن نَذِير مِن قَبْلك﴾ وهُمْ أهْل مَكَّة ﴿لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ﴾ يَتَّعِظُونَ
Dan engkau tidak berada di sisi (gunung) Thûr ketika Kami memanggil (Mûsa), melainkan sebagai rahmat dari Tuhanmu agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum engkau, supaya mereka mengambil pelajaran.
3. QS.Al-Mu’minun : 20
وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِن طُورِ سَيْنَآءَ تَنۢبُتُ بِٱلدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِّلْءَاكِلِينَ ﴿٢٠﴾
artinya :
(Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh di Bukit Sinai, yang menghasilkan minyak dan lauk-pauk pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.
Tafsiran
تفسير الجلالين — المحلّي والسيوطي (٨٦٤، ٩١١ هـ)
﴿وَشَجَرَةࣰ تَخۡرُجُ مِن طُورِ سَیۡنَاۤءَ تَنۢبُتُ بِٱلدُّهۡنِ وَصِبۡغࣲ لِّلۡـَٔاكِلِینَ﴾ [المؤمنون ٢٠]
﴿و﴾ أنْشَأْنا ﴿شَجَرَة تَخْرُج مِن طُور سَيْناء﴾ جَبَل بِكَسْرِ السِّين وفَتْحها ومَنع الصَّرْف لِلْعِلْمِيَّةِ والتَّأْنِيث لِلْبُقْعَةِ ﴿تَنْبُت﴾ مِن الرُّباعِيّ والثُّلاثِيّ ﴿بِالدُّهْنِ﴾ الباء زائِدَة عَلى الأَوَّل ومُعَدِّيَة عَلى الثّانِي وهِيَ شَجَرَة الزَّيْتُون ﴿وصِبْغ لِلْآكِلِينَ﴾ عَطْف عَلى الدُّهْن أيْ إدام يَصْبُغ اللُّقْمَةَ بِغَمْسِها فِيهِ وهُوَ الزَّيْت
Kami ciptakan sebuah pohon yang tumbuh dari Gunung Shînâ’ (dibaca: Ṭûr Saina’a, sin kasrah lalu fathah, tak dii’rab karena nama ilmiah, dan dimuannath karena merupakan tempat), yang menghasilkan (dari bentuk ruba’i dan tsulâtsî) minyak zaitun (ba’ zâ’idah pada yang pertama, mu‘addiyah pada yang kedua), dan pelengkap makanan bagi yang makan, yaitu pewarna suapan yang dicelupkan ke dalamnya – yakni minyak zaitun itu sendiri.
4. QS. An-Nisa : 154
وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ ٱلطُّورَ بِمِيثَٰقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا۟ فِى ٱلسَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا ﴿١٥٤﴾
Kami pun telah mengangkat gunung (Sinai) di atas mereka untuk (menguatkan) perjanjian mereka. Kami perintahkan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbang (Baitulmaqdis) itu sambil bersujud”. Kami perintahkan pula kepada mereka, “Janganlah melanggar (peraturan) pada hari Sabat.” Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh.
Tafsiran
تفسير الجلالين — المحلّي والسيوطي (٨٦٤، ٩١١ هـ)
﴿وَرَفَعۡنَا فَوۡقَهُمُ ٱلطُّورَ بِمِیثَـٰقِهِمۡ وَقُلۡنَا لَهُمُ ٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡبَابَ سُجَّدࣰا وَقُلۡنَا لَهُمۡ لَا تَعۡدُوا۟ فِی ٱلسَّبۡتِ وَأَخَذۡنَا مِنۡهُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا﴾ [النساء ١٥٤]﴿ورَفَعْنا فَوْقهمْ الطُّور﴾ الجَبَل ﴿بِمِيثاقِهِمْ﴾ بِسَبَبِ أخْذ المِيثاق عَلَيْهِمْ لِيَخافُوا فَقَبِلُوهُ ﴿وقُلْنا لَهُمْ﴾ وهُوَ مُظِلّ عَلَيْهِمْ ﴿اُدْخُلُوا الباب﴾ باب القَرْيَة ﴿سُجَّدًا﴾ سُجُود انْحِناء ﴿وقُلْنا لَهُمْ لا تَعْدُوا﴾ وفِي قِراءَة بِفَتْحِ العَيْن وتَشْدِيد الدّال وفِيهِ إدْغام التّاء فِي الأَصْل فِي الدّال أيْ لا تَعْتَدُوا ﴿فِي السَّبْت﴾ بِاصْطِيادِ الحِيتان فِيهِ ﴿وأَخَذْنا مِنهُمْ مِيثاقًا غَلِيظًا﴾ عَلى ذَلِكَ فَنَقَضُوهُ
Penafsiran QS. An-Nisā’ [4]: 154 menjelaskan bahwa Allah mengangkat Gunung Ṭūr di atas Bani Israil sebagai bentuk tekanan agar mereka mau menerima perjanjian yang telah ditetapkan, sehingga timbul rasa takut lalu mereka menyetujuinya. Dalam keadaan gunung menaungi mereka, Allah memerintahkan agar mereka memasuki pintu kota dengan sikap tunduk dan merendahkan diri, serta melarang mereka melakukan pelanggaran pada hari Sabtu, khususnya berburu ikan. Atas semua perintah dan larangan tersebut, Allah mengambil dari mereka perjanjian yang sangat kuat, namun pada kenyataannya perjanjian itu kemudian mereka ingkari.
5. QS.Al-Baqarah : 63 & 93
Al-Baqarah : 63
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ ٱلطُّورَ خُذُوا۟ مَآ ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱذْكُرُوا۟ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾
(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa.”
Penafsiran
﴿و﴾ اُذْكُرْ ﴿إذْ أخَذْنا مِيثاقكُمْ﴾ عَهْدكُمْ بِالعَمَلِ بِما فِي التَّوْراة ﴿و﴾ قَدْ ﴿رَفَعْنا فَوْقكُمْ الطُّور﴾ الجَبَل اقْتَلَعْناهُ مِن أصْله عَلَيْكُمْ لَمّا أبَيْتُمْ قَبُولها وقُلْنا ﴿خُذُوا ما آتَيْناكُمْ بِقُوَّةٍ﴾ بِجِدٍّ واجْتِهاد ﴿واذْكُرُوا ما فِيهِ﴾ بِالعَمَلِ بِهِ ﴿لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ النّار أوْ المَعاصِي
“Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian, yaitu janji untuk mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat. Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung Thur di atas kalian, yakni Kami mencabutnya dari akarnya dan menggantungkannya di atas kalian, ketika kalian menolak untuk menerimanya. Lalu Kami berfirman: ‘Peganglah dengan sungguh-sungguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian,’ yakni dengan keseriusan dan kesungguhan, ‘dan ingatlah apa yang ada di dalamnya,’ yaitu dengan mengamalkannya, ‘agar kalian bertakwa,’ yakni agar kalian terhindar dari neraka atau dari perbuatan-perbuatan maksiat.”
Di dalam ayat ini membahas tiga hal utama:
1.Perjanjian Bani Israil
2. Peristiwa Gunung Thur
3.Perintah mengamalkan kitab
Al-Baqarah 93
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ ٱلطُّورَ خُذُوا۟ مَآ ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱسْمَعُوا۟ قَالُوا۟ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِۦٓ إِيمَٰنُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٩٣﴾
(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkannya, tetapi kami tidak menaatinya.” Diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekufuran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh keimananmu kepadamu jika kamu orang-orang mukmin!”
Penafsiran
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian kalian untuk mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat. Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat Gunung Thur di atas kalian yaitu gunung itu ketika kalian menolak untuk menerimanya, agar ia jatuh menimpa kalian. Dan Kami berfirman: ‘Peganglah dengan sungguh-sungguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian,’ yakni dengan keseriusan dan kesungguhan, ‘dan dengarkanlah,’ yaitu dengarkan apa yang diperintahkan kepada kalian dengan sikap menerima.
Mereka berkata: ‘Kami mendengar,’ tetapi (pada hakikatnya) ‘kami durhaka.’ Dan (akibat kekufuran mereka) kecintaan kepada anak sapi telah meresap ke dalam hati mereka, sebagaimana minuman meresap (ke dalam tubuh). Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh iman kalian itu,’ yakni iman kepada Taurat, yaitu penyembahan anak sapi, jika kalian benar-benar beriman.
Maknanya: kalian sebenarnya bukan orang-orang beriman, karena iman tidak mungkin memerintahkan penyembahan anak sapi. Yang dimaksud adalah nenek moyang mereka. Maka demikian pula kalian: kalian bukan orang-orang yang beriman kepada Taurat, karena kalian telah mendustakan Muhammad, padahal iman kepada Taurat tidak mungkin memerintahkan pendustaan terhadapnya.”
6. QS.Al-A’raf : 171
وَإِذْ نَتَقْنَا ٱلْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٌ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُۥ وَاقِعٌۢ بِهِمْ خُذُوا۟ مَآ ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱذْكُرُوا۟ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٧١﴾
(Ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung (dari akarnya) ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman kepada mereka,) “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu bertakwa.”
Penafsiran
﴿و﴾ اُذْكُرْ ﴿إذْ نَتَقْنا الجَبَل﴾ رَفَعْناهُ مِن أصْله ﴿فَوْقهمْ كَأَنَّهُ ظُلَّة وظَنُّوا﴾ أيْقَنُوا ﴿أنَّهُ واقِع بِهِمْ﴾ ساقِط عَلَيْهِمْ بِوَعْدِ اللَّه إيّاهُمْ بِوُقُوعِهِ إنْ لَمْ يَقْبَلُوا أحْكام التَّوْراة وكانُوا أبَوْها لِثَقَلِها فَقَبِلُوا وقُلْنا لَهُمْ ﴿خُذُوا ما آتَيْناكُمْ بِقُوَّةٍ﴾ بِجِدٍّ واجْتِهاد ﴿واذْكُرُوا ما فِيهِ﴾ بِالعَمَلِ بِهِ
“Dan ingatlah ketika Kami mencabut gunung itu (dari tempatnya), lalu Kami mengangkatnya dari akarnya di atas mereka seakan-akan ia adalah naungan. Dan mereka menyangka—yakni meyakini—bahwa gunung itu benar-benar akan jatuh menimpa mereka, sesuai dengan janji Allah kepada mereka bahwa hal itu akan terjadi jika mereka tidak menerima hukum-hukum Taurat. Padahal sebelumnya mereka menolaknya karena beratnya tuntutan tersebut, lalu akhirnya mereka pun menerimanya. Dan Kami berfirman kepada mereka: ‘Peganglah dengan sungguh-sungguh apa yang telah Kami berikan kepada kalian,’ yakni dengan keseriusan dan kesungguhan, ‘dan ingatlah apa yang ada di dalamnya,’ yaitu dengan mengamalkannya.”
QS. Al-A‘rāf ayat 171 menggambarkan peristiwa pengangkatan Gunung Ṭūr sebagai bentuk ancaman ilahi kepada Bani Israil agar menerima dan mengamalkan hukum Taurat. Gunung Ṭūr berfungsi sebagai instrumen pedagogis dan teologis untuk menegaskan beratnya konsekuensi penolakan terhadap wahyu Allah.