5. larangan ghibah


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ ، وَقُتَيْبَةُ ، وَابْنُ حُجْرٍ ، قَالُوا : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، عَنِ الْعَلَاءِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

” أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ؟

” قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :

” ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ “. قِيلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ ؟ قَالَ : ” إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ “.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma’il, dari Al-Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

​”Tahukah kalian apa itu ghibah?”

​Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
​Beliau bersabda:

“Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak ia sukai.”
​Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan itu memang benar-benar ada pada diri saudaraku?”

​Beliau bersabda: “Jika apa yang engkau katakan itu memang benar ada padanya, maka engkau telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan jika apa yang engkau katakan tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya (berbuat dusta atasnya).”