Hadis 14


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ الْبَصْرِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ ، عَنْ إِسْرَائِيلَ ، عَنِ الْأَعْمَشِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ عَلْقَمَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

” لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ “.

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al-Azdi Al-Bashri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq, dari Israil, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

​”Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata-kata keji (kotor), dan bukan pula orang yang suka berkata-kata kasar/jorok.”

​(Imam At-Tirmidzi berkata): Hadis ini derajatnya Hasan Gharib. Dan sungguh telah diriwayatkan pula dari Abdullah melalui jalur selain yang ini.

Hadis yang Anda cantumkan ini merupakan salah satu fondasi utama dalam manhaj pembentukan akhlak Islam, khususnya mengenai penjagaan lisan dan kebersihan karakter seorang muslim. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya (Bab Keutamaan Akhlak yang Baik). Di dalamnya, Nabi ﷺ memberikan empat indikator negatif yang mustahil melekat pada diri seorang mukmin yang sejati.

  • FIQH HADISNYA
1. Definisi Peniadaan Sifat Mukmin Sejati

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ…

“Bukanlah seorang mukmin yang (sempurna imannya) itu…”

  • Negasi Kesempurnaan Iman: Secara Fiqhi Hadis, kalimat “Laisal Mu’min” di sini tidak berarti bahwa pelaku dosa lisan ini otomatis murtad atau keluar dari Islam. Para ulama sepakat yang ditiadakan adalah Kesempurnaan Iman yang Wajib (Kamalul Iman al-Wajib).

  • Korelasi Iman dan Etika: Nabi ﷺ ingin menegaskan hubungan linier antara akidah dan akhlak. Seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, namun lisannya masih menjadi mesin penghancur kehormatan orang lain, menunjukkan bahwa ada cacat serius dalam fondasi keimanannya.

2. Sifat Pertama: At-Tha’an (Tukang Mencela/Mencacat)

…بِالطَّعَّانِ…

“…seorang yang suka mencela (menjatuhkan kehormatan)…”

  • Fikih Istilah: Kata Ath-Tha’an menggunakan pola Shighah Mubalaghah (menunjukkan perilaku yang sering atau menjadi tabiat). Arti dasarnya adalah menusuk, namun dalam konteks lisan, artinya adalah menikam kehormatan dan nasab orang lain.

  • Bentuk Perilaku: Ini mencakup orang yang kerjanya selalu mencari-cari kesalahan orang lain, hobi mengkritik dengan niat menjatuhkan (spill kejelekan), merendahkan fisik, status sosial, atau latar belakang seseorang. Mukmin sejati adalah orang yang konstruktif, bukan destruktif.

3. Sifat Kedua: Al-La’an (Tukang Melaknat)

…وَلَا اللَّعَّانِ…

“…dan bukan pula seorang yang suka melaknat…”

  • Hakikat Laknat: Melaknat (Al-La’an) artinya mendoakan atau meminta agar seseorang dijauhkan dan diusir dari rahmat Allah. Ini adalah perkara yang sangat berat dalam timbangan syariat.

  • Bahaya Boomerang: Islam melarang keras kita mudah mengobral kata “Laknatullah” kepada sesama muslim, bahkan kepada hewan atau benda mati sekalipun. Nabi ﷺ memperingatkan dalam hadis lain bahwa jika kalimat laknat keluar dari mulut seseorang dan targetnya ternyata tidak layak menerima laknat tersebut, maka kutukan itu akan memantul kembali kepada orang yang mengucapkannya.

4. Sifat Ketiga: Al-Fahisy (Tukang Berkata Kotor/Keji)

…وَلَا الْفَاحِشِ…

“…dan bukan pula seorang yang suka berkata keji/kotor…”

  • Fikih Istilah: Al-Fahisy adalah orang yang ucapan atau perbuatannya sudah melampaui batas kepatutan, jorok, dan menjijikkan.

  • Bentuk Perilaku: Di era modern, ini mencakup orang yang gemar memproduksi kata-kata makian seksual, membicarakan hal-hal vulgar secara vulgar di ruang publik, atau mengumbar obrolan intim yang tabu demi hiburan. Mukmin sejati memiliki rasa malu (Haya’) yang membentengi lisannya dari diksi-diksi sampah.

5. Sifat Keempat: Al-Badzi’ (Tukang Berbicara Kasar/Sarkas)

…وَلَا الْبَذِيءِ “.

“…dan bukan pula seorang yang bermulut lancang/kasar.”

  • Fikih Istilah: Al-Badzi’ memiliki makna yang beririsan dengan Al-Fahisy, namun para ulama menjelaskan bahwa Al-Badzi’ lebih ditekankan pada karakter lisan yang tidak tahu sopan santun, ketus, lancang, dan suka menggunakan kalimat sarkasme yang menyakitkan hati orang yang mendengarnya, meskipun mungkin tidak menggunakan kata-kata jorok.

  • Prinsip Kelembutan: Islam menuntut tutur kata yang lembut (Qaulan Layyina). Karakter bermulut tajam dan tidak peduli perasaan orang lain sangat bertolak belakang dengan sifat lemah lembut yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

6. Catatan Metodologi Sanad dan Istilah Imam At-Tirmidzi

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ.

“Hadis ini derajatnya Hasan Gharib. Dan sungguh hadis ini telah diriwayatkan dari Abdullah (bin Mas’ud) melalui jalur yang lain.”

  • Arti Hasan Gharib: Ketika Imam At-Tirmidzi menggunakan istilah ini, artinya secara kualitas perawi dan ketersambungan sanad, hadis ini berkategori baik/diterima (Hasan), namun dari segi kuantitas jalur, hadis ini Gharib (hanya disendiri-riwayatkan oleh satu jalur perawi tertentu pada tingkatan sanadnya, dalam hal ini jalur Israil dari Al-A’mesh).

  • Penguatan Jalur (Mutaba’ah): Kalimat penutup “wa qad ruwiya min ghairi hadzal wajh” menunjukkan kejelian riset Imam At-Tirmidzi. Beliau mengonfirmasi bahwa meskipun jalur spesifik yang beliau bawa di atas statusnya gharib, matan (teks) hadis ini memiliki jalur-jalur periwayatan lain dari sahabat Abdullah bin Mas’ud yang saling menguatkan, sehingga status hadis ini naik menjadi sangat kuat (Shahih lighairihi) dan valid dijadikan hujah hukum akhlak.

Pesan Utama:

Hadis ini adalah cermin bagi kualitas spiritual kita. Iman tidak hanya diukur dari seberapa panjang sujud kita di atas sajadah, melainkan juga dari seberapa bersih ketikan kita di media sosial dan seberapa santun ucapan kita saat berinteraksi sehari-hari. Mukmin yang asli adalah mereka yang kehadirannya membawa rasa aman, baik dari tangan maupun lisannya.