Hadis 18


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

” إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ “. قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ ؟ قَالَ : ” يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ “.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, dari ayahnya, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

​”Sesungguhnya di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya.”
​Ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri?”
​Beliau bersabda: “Seseorang mencela ayah orang lain, kemudian orang lain tersebut balas mencela ayahnya dan mencela ibunya.”

Hadis yang Anda cantumkan ini merupakan salah satu pilar penting dalam hukum Islam mengenai bakti kepada orang tua (Birrul Walidain) dan manajemen konflik sosial. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya (Bab Larangan Mencaci dan Melaknat Kedua Orang Tua). Di dalamnya, Nabi ﷺ membongkar sebuah logika hukum yang sangat cerdas tentang bagaimana seseorang bisa menjadi penjahat bagi orang tuanya sendiri tanpa ia sadari.

  • FIQH HADISNYA
1. Dosa Besar di Atas Dosa Besar

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ…

“Sesungguhnya di antara dosa besar yang paling besar adalah seorang laki-laki melaknat kedua orang tuanya…”

  • Tingkatan Dosa (Akbarul Kabair): Dalam syariat Islam, dosa tidak berada dalam satu level yang sama. Di bawah dosa syirik, terdapat kelompok dosa besar (Al-Kabair), dan di dalam kelompok tersebut ada jajaran dosa yang paling tinggi tingkat keharamannya (Akbarul Kabair), seperti membunuh jiwa, saksi palsu, dan durhaka kepada orang tua (Uququl Walidain).

  • Keji secara Fitrah: Melaknat atau mengutuk orang tua diletakkan di puncak dosa besar karena secara fitrah kemanusiaan, orang tua adalah wasilah (perantara) kehadiran kita di dunia, yang merawat kita dengan darah dan air mata. Membalas kasih sayang mereka dengan laknat adalah puncak kebiadaban moral.

2. Keheranan Para Sahabat atas Logika Kejahatan

…قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ ؟…

…Ditanyakan (oleh para sahabat): “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seorang laki-laki tega melaknat kedua orang tuanya sendiri?”…

  • Logika Normal Manusia: Pertanyaan para sahabat ini menunjukkan indikator sosial yang sehat pada masa itu. Di kepala para sahabat, tidak masuk akal ada anak kandung yang berdiri di depan ayah atau ibunya lalu berteriak, “Aku melaknatmu!” atau “Terkutuklah kamu!”. Mereka menganggap hal itu mustahil dilakukan oleh seseorang yang masih memiliki akal sehat.

3. Fikih Sebab-Akibat: Menjadi Pelaku Lewat Perantara

…قَالَ : ” يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ “.

…Beliau bersabda: “Yaitu seorang laki-laki mencaci ayah orang lain, lalu orang lain tersebut balas mencaci ayahnya dan mencaci ibunya.”

Di sinilah letak keindahan dan kecerdasan Fiqhi Hadis ini. Nabi ﷺ menjelaskan sebuah kaidah hukum universal yang sangat mendasar dalam Islam: Sebab-Akibat (Kausalitas) dan Hukum Perantara.

  • Hukum Al-Tassabbub (Sebab): Seseorang yang menjadi penyebab terjadinya suatu keharaman, maka ia menanggung dosa yang sama seolah-olah ia melakukan keharaman itu secara langsung. Ketika Anda mencaci ayah si A, Anda tahu secara psikologis si A akan marah dan membalas mencaci ayah atau ibu Anda.

  • Siapa Pelaku Utamanya? Secara fisik, yang mengucapkan kata cacian kepada orang tua Anda adalah si A. Namun secara hukum syariat, Andalah yang mendatangkan cacian itu ke rumah orang tua Anda sendiri. Anda yang membuka pintunya, Anda yang memicu apinya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menghukumi orang tersebut telah “melaknat orang tuanya sendiri”.

4. Relevansi Zaman Modern: Budaya Spill dan Saling Hujat

Hadis ini sangat kontekstual dengan realitas media sosial saat ini:

  • Perang Komentar: Ketika seseorang membuat konten yang memicu amarah publik, memaki kelompok lain, atau mengejek individu lain di ruang siber, netizen yang marah sering kali akan membalas dengan menyerang ranah pribadi, termasuk mencaci maki orang tuanya (contoh: “Anak gak dididik orang tua,” atau makian kasar yang membawa-bawa nama ibu/ayah).

  • Perlindungan Kehormatan Keluarga: Hadis ini mendidik kita untuk memiliki strategi preventif dalam menjaga nama baik keluarga. Jika kita benar-benar sayang kepada ayah dan ibu kita, maka jagalah lisan dan ketikan kita dari menyakiti orang lain. Karena setiap kali kita menghina orang lain, kita sedang melempar bom waktu yang akan berbalik menghancurkan kehormatan orang tua kita sendiri.

5. Catatan Struktur Sanad

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ…

“Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, dari ayahnya (Sa’d bin Ibrahim), dari Humaid bin Abdurrahman…”

  • Sanad Khusus Keluarga Zuhri: Rantai perawi hadis ini sangat indah karena melibatkan transmisi ilmu dalam lingkaran keluarga besar tabi’in di Madinah. Sa’d bin Ibrahim meriwayatkan dari pamannya, Humaid bin Abdurrahman bin Auf (putra dari sahabat mulia Abdurrahman bin Auf). Jalur kekeluargaan ini dikenal memiliki tingkat akurasi ingatan yang sangat kuat karena hadis didebatkan dan dipelajari dalam ruang keluarga yang intim, sebelum akhirnya dicatat dengan tinta emas oleh Imam Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Pesan Utama:

Menghormati orang tua tidak hanya dilakukan dengan cara mencium tangan mereka saat di rumah. Menghormati orang tua juga berarti menjaga sikap kita di luar rumah agar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang melayangkan makian kepada ayah dan ibu kita akibat ulah lancang kita sendiri.