Hadis 21


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ ، عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ :

” يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا “.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu At-Tayyah, dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

​”Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit, dan berilah kabar gembira serta janganlah kalian membuat orang berlari (menjauh).”
(HR. Bukhari)

Hadis yang Anda cantumkan ini merupakan salah satu pilar agung dalam metodologi dakwah, pendidikan, dan interaksi sosial dalam Islam. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (dan juga Imam Muslim) dalam kitab Shahih-nya. Di dalamnya terdapat dua paket instruksi berpasangan yang menjadi ruh dari sifat syariat Islam yang hanif dan toleran (Al-Hanafiyyah As-Samhah).

  • FIQH HADISNYA
1. Paket Pertama: Mempermudah dan Tidak Dipersulit

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا…

“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit…”

  • Karakteristik Dasar Islam: Secara Fiqhi Hadis, kalimat Yassiru (Permudahlah) menegaskan bahwa asal dari syariat Islam adalah membawa kemaslahatan dan kemudahan bagi manusia, bukan beban yang menyiksa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185).

  • Mengapa Diiringi Larangan? Para ulama (seperti Imam An-Nawawi) menjelaskan alasan mengapa setelah perintah mempermudah, Nabi ﷺ langsung mengiringinya dengan larangan mempersulit (wa laa tu’assiru). Tujuannya adalah untuk menutup celah dari perilaku ekstrem. Jika hanya dikatakan “permudahlah”, seseorang mungkin sesekali mempermudah namun di waktu lain mempersulit. Larangan ini menegaskan bahwa mempersulit orang lain dalam urusan agama dan muamalah adalah hal yang dibenci secara konsisten dalam Islam.

  • Aplikasi Fikih: Dari hadis ini lahir kaidah fikih yang sangat populer:

    $$Al-Masyaqqatu\ \mathit{Tajlibu\ at-Taysir}$$

    (Kesulitan itu mendatangkan kemudahan). Contoh praktisnya adalah adanya dispensasi (rukhshah) seperti menjamak/mengqashar shalat saat safar, bertayammum saat tidak ada air, atau boleh berbuka puasa bagi orang sakit.

2. Paket Kedua: Kabar Gembira dan Tidak Membuat Orang Lari

…وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا “.

“…dan berilah kabar gembira serta janganlah kalian membuat orang menjauh (lari).”

Nabi ﷺ memberikan panduan psikologis yang sangat cerdas dalam berkomunikasi dan berdakwah:

  • Basy-syiru (Berikan Kabar Gembira): Saat mengajak orang kepada Islam atau kebaikan, mulailah dengan menyuguhkan keindahan Islam, luasnya rahmat Allah, besarnya pahala, dan janji surga. Hal ini akan menumbuhkan rasa cinta (Raja’) dan motivasi di dalam hati seseorang untuk beramal.

  • Wa Laa Tunaffiru (Jangan Membuat Orang Lari/Alergi): Kebalikan dari kabar gembira adalah Tanfir, yaitu cara penyampaian yang kaku, kasar, selalu mendahulukan ancaman neraka, atau menghakimi secara ugal-ugalan sehingga membuat orang merasa putus asa dari rahmat Allah dan akhirnya memilih lari menjauh dari agama.

  • Keseimbangan Teologis: Hadis ini tidak berarti kita menghapus ayat-ayat ancaman atau hukum-hukum yang tegas. Namun, fikih dakwah menuntut kita untuk menaruh sesuatu pada tempatnya secara proporsional. Kepada orang yang baru belajar agama (mualaf atau pelaku maksiat yang ingin taubat), pendekatan kasih sayang dan kemudahan harus diprioritaskan agar iman mereka kokoh terlebih dahulu.

3. Keindahan Jalur Sanad Basrah

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ ، عَنْ أَنَسٍ…

“Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu At-Tayyah menceritakan kepadaku, dari Anas…”

  • Mata Rantai Ulama Raksasa: Silsilah perawi hadis ini sangat memanjakan mata para ahli hadis. Muhammad bin Basysyar (terkenal dengan julukan Bundar) dan gurunya, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (kritikus hadis nomor satu di zamannya), dikombinasikan dengan Syu’bah bin Al-Hajjaj (Amirul Mukminin dalam hal hadis).

  • Transmisi Lokal Basrah: Jalur ini didominasi oleh para ulama yang menetap di kota Basrah (Irak). Mereka menerima hadis ini melalui jalur Abu At-Tayyah (Yazid bin Humaid) langsung dari pelayan setia Rasulullah ﷺ, yaitu Anas bin Malik. Kedisiplinan tinggi dari para perawi Basrah ini menjamin bahwa teks kalimat yang sangat padat makna ini meluncur murni tanpa ada distorsi sejarah.

Pesan Utama:

Hadis ini adalah kritik sekaligus panduan bagi kita semua, baik sebagai orang tua, guru, pemimpin, maupun konten kreator di media sosial. Jadilah pribadi yang solutif, ramah, dan mempermudah urusan orang lain. Sampaikan kebaikan dengan narasi yang merangkul dan menyejukkan, bukan memukul atau membuat orang alergi terhadap kebenaran.