{"id":53,"date":"2026-07-05T14:14:20","date_gmt":"2026-07-05T14:14:20","guid":{"rendered":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/2-pengertian-menjaga-lisan\/"},"modified":"2026-07-05T14:27:39","modified_gmt":"2026-07-05T14:27:39","slug":"2-pengertian-menjaga-lisan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/2-pengertian-menjaga-lisan\/","title":{"rendered":"2. Pengertian menjaga lisan"},"content":{"rendered":"<p>B. Pengertian Menjaga Lisan<\/p>\n<p>\u200ba. Pengertian Menjaga Lisan Secara Bahasa (Etimologi)<\/p>\n<p>\u200bIstilah menjaga lisan dalam bahasa Arab dikenal dengan \u1e25if\u1e93 al-lis\u0101n (\u062d\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0644\u0633\u0627\u0646). Istilah ini terdiri atas dua kata, yaitu \u1e25if\u1e93 (\u062d\u0641\u0638) dan lis\u0101n (\u0644\u0633\u0627\u0646).<\/p>\n<p>\u200bKata \u1e25if\u1e93 berasal dari fi&#8217;il \u1e25afi\u1e93a ya\u1e25fa\u1e93u (\u062d\u0641\u0638\u2013\u064a\u062d\u0641\u0638) yang berarti menjaga, memelihara, melindungi, mengawasi, atau mempertahankan sesuatu agar tetap berada dalam keadaan baik dan terhindar dari kerusakan. Dalam Mu&#8217;jam Maq\u0101y\u012bs al-Lughah, Ibnu Faris menjelaskan bahwa akar kata \u1e25if\u1e93 menunjukkan makna dasar memelihara dan mencegah sesuatu dari kehilangan atau kerusakan.<\/p>\n<p>\u200bAdapun kata lis\u0101n (\u0644\u0633\u0627\u0646) secara bahasa berarti lidah, yaitu organ tubuh yang digunakan untuk berbicara. Namun dalam penggunaan bahasa Arab, kata lis\u0101n juga bermakna ucapan, perkataan, bahasa, atau cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain.<\/p>\n<p>\u200bDengan demikian, secara etimologis \u1e25if\u1e93 al-lis\u0101n berarti menjaga setiap ucapan, mengendalikan perkataan, dan memelihara lisan agar tidak digunakan untuk mengucapkan sesuatu yang buruk, sia-sia, atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.<\/p>\n<p>\u200bb. Pengertian Menjaga Lisan Secara Istilah (Terminologi)<\/p>\n<p>\u200bSecara terminologis, menjaga lisan adalah upaya seorang muslim untuk mengendalikan setiap perkataan agar sesuai dengan ajaran Islam, yaitu hanya mengucapkan perkataan yang benar, baik, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain, serta menghindari segala bentuk ucapan yang dilarang syariat seperti dusta, ghibah (menggunjing), fitnah, namimah (adu domba), mencaci, menghina, berkata kasar, dan menyebarkan berita tanpa tabayun (klarifikasi).<\/p>\n<p>\u200bDalam perspektif Islam, lisan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, setiap perkataan seorang muslim harus didasarkan pada nilai kejujuran, kebijaksanaan, kesantunan, dan kemaslahatan.<br \/>\n\u200bPrinsip tersebut ditegaskan dalam firman Allah Swt.:<\/p>\n<p dir=\"rtl\" style=\"text-align: center\">\n\u200b\u00ab\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0644\u0652\u0641\u0650\u0638\u064f \u0645\u0650\u0646 \u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u064d \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0644\u064e\u062f\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0631\u064e\u0642\u0650\u064a\u0628\u064c \u0639\u064e\u062a\u0650\u064a\u062f\u064c\u00bb<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.&#8221; (QS. Qaf: 18).<br \/>\n\u200bAyat ini menunjukkan bahwa setiap ucapan manusia, sekecil apa pun, berada dalam pengawasan Allah Swt. dan akan dicatat oleh malaikat. Karena itu, menjaga lisan merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus ibadah.<br \/>\n\u200bSelain Al-Qur&#8217;an, Rasulullah \ufdfa juga memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai pentingnya menjaga lisan. Beliau bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\n&#8220;Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim).<\/p>\n<p>\u200bMenurut Imam al-Nawawi dalam Syarh \u1e62a\u1e25\u012b\u1e25 Muslim, hadis tersebut merupakan salah satu kaidah besar dalam akhlak Islam. Seorang muslim diperintahkan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu manfaat dan mudarat dari setiap perkataan. Apabila ucapan tersebut membawa manfaat, maka dianjurkan untuk mengucapkannya. Sebaliknya, apabila tidak mengandung manfaat atau bahkan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka diam lebih utama.<\/p>\n<p>\u200bSementara itu, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fat\u1e25 al-B\u0101r\u012b menjelaskan bahwa menjaga lisan bukan hanya menghindari perkataan haram, tetapi juga meninggalkan perkataan yang sia-sia (laghw) karena hal tersebut dapat mengurangi kesempurnaan akhlak seorang muslim.<\/p>\n<p>\u200bPendapat yang sama dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam I\u1e25y\u0101&#8217; &#8216;Ul\u016bm al-D\u012bn. Menurut beliau, lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang paling mudah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Oleh sebab itu, seorang muslim harus membiasakan diri untuk berbicara dengan penuh pertimbangan, karena banyak kerusakan dalam kehidupan bermula dari ucapan yang tidak dijaga.<\/p>\n<p>\u200bDalam konteks kehidupan modern, menjaga lisan tidak hanya terbatas pada komunikasi secara langsung, tetapi juga mencakup komunikasi melalui media digital seperti media sosial, aplikasi pesan instan, surat elektronik, dan berbagai platform komunikasi lainnya. Tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan yang disampaikan melalui media digital memiliki hukum yang sama dengan ucapan lisan apabila mengandung unsur dusta, fitnah, ghibah, penghinaan, atau ujaran kebencian. Oleh karena itu, nilai-nilai menjaga lisan dalam hadis tetap relevan sebagai pedoman etika komunikasi di era digital.<\/p>\n<p>\u200bKesimpulan<br \/>\n\u200bBerdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menjaga lisan adalah usaha sadar seorang muslim untuk mengendalikan setiap bentuk komunikasi, baik lisan maupun tulisan, agar senantiasa berada dalam koridor syariat Islam. Menjaga lisan tidak hanya berarti menghindari perkataan yang buruk, tetapi juga mengupayakan agar setiap ucapan memberikan manfaat, mendatangkan kebaikan, mempererat hubungan antarsesama, serta menjadi sarana menyebarkan nilai-nilai Islam yang ra\u1e25matan lil-&#8216;\u0101lam\u012bn.<br \/>\n\u200bReferensi (Perbaikan)<\/p>\n<ul>\n<li>\u200bIbnu Faris. Mu&#8217;jam Maq\u0101y\u012bs al-Lughah. Beirut: D\u0101r al-Fikr.<\/li>\n<li>\u200bImam al-Nawawi. Syarh \u1e62a\u1e25\u012b\u1e25 Muslim. Beirut: D\u0101r I\u1e25y\u0101&#8217; al-Tur\u0101th al-&#8216;Arab\u012b.<\/li>\n<li>\u200bIbnu Hajar al-Asqalani. Fat\u1e25 al-B\u0101r\u012b bi Syarh \u1e62a\u1e25\u012b\u1e25 al-Bukh\u0101r\u012b. Beirut: D\u0101r al-Ma&#8217;rifah.<\/li>\n<li>\u200bImam al-Ghazali. I\u1e25y\u0101&#8217; &#8216;Ul\u016bm al-D\u012bn. Beirut: D\u0101r al-Kutub al-&#8216;Ilmiyyah.<\/li>\n<li>\u200bAl-Qur&#8217;an Al-Karim, Surah Qaf ayat 18.<\/li>\n<li>\u200bSahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Hadis No. 6018.<\/li>\n<li>\u200bSahih Muslim, Kitab al-Iman, Hadis No. 47.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>B. Pengertian Menjaga Lisan \u200ba. Pengertian Menjaga Lisan Secara Bahasa (Etimologi) \u200bIstilah menjaga lisan dalam bahasa Arab dikenal dengan \u1e25if\u1e93 al-lis\u0101n (\u062d\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0644\u0633\u0627\u0646). Istilah ini terdiri atas dua kata, yaitu \u1e25if\u1e93 (\u062d\u0641\u0638) dan lis\u0101n (\u0644\u0633\u0627\u0646). \u200bKata \u1e25if\u1e93 berasal dari fi&#8217;il \u1e25afi\u1e93a ya\u1e25fa\u1e93u (\u062d\u0641\u0638\u2013\u064a\u062d\u0641\u0638) yang berarti menjaga, memelihara, melindungi, mengawasi, atau mempertahankan sesuatu agar tetap berada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":105,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-53","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-2-pengertian-menjaga-lisan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/users\/105"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53\/revisions\/58"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cms.alfukhair.id\/hadis-etik-kmnik\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}