حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، عَنِ الْمُغِيرَةِ – يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ – عَنْ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنِ الْأَعْرَجِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
” نَزَلَ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ تَحْتَ شَجَرَةٍ فَلَدَغَتْهُ نَمْلَةٌ، فَأَمَرَ بِجَهَازِهِ فَأُخْرِجَ مِنْ تَحْتِهَا، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَأُحْرِقَتْ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ : فَهَلَّا نَمْلَةً وَاحِدَةً ؟ “.
Qutaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Al-Mughirah – maksudnya Ibn Abdurrahman – dari Abu Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang nabi dari para nabi turun di bawah sebuah pohon, lalu seekor semut menyengatnya. Maka beliau memerintahkan pasukannya untuk dikeluarkan dari bawah pohon itu, kemudian beliau memerintahkan untuk dibakar, lalu mereka dibakar. Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya: ‘Mengapa bukan hanya seekor semut saja?'”.
Abi Dawud: 5265