1. Letak Ayat
QS. Al-Baqarah (2): 283 — Madaniyyah, kelanjutan dari ayat pencatatan utang (ayat 282)
۞ وَاِنْ كُنْتُمْ عَلٰى سَفَرٍ وَّلَمْ تَجِدُوْا كَاتِبًا فَرِهٰنٌ مَّقْبُوْضَةٌۗ فَاِنْ اَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِى اؤْتُمِنَ اَمَانَتَهٗ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَۗ وَمَنْ يَّكْتُمْهَا فَاِنَّهٗٓ اٰثِمٌ قَلْبُهٗۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌࣖ ٢٨٣
Terjemahan
“Dan jika kamu dalam perjalanan sedangkan kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang (oleh yang berpiutang).”
Analisis Umum
Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya rahn (gadai) sebagai alternatif jaminan ketika pencatatan tertulis dan saksi sulit dihadirkan, khususnya dalam kondisi safar (perjalanan). Jumhur ulama memahami rahn juga berlaku dalam kondisi mukim (menetap), berdasarkan praktik langsung Nabi ﷺ.