حدثنا قتيبة بن سعيد: حدثنا أبو الأحوص، عن أبي حصين، عن أبي صالح، عن أبي هريرة قال:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
Qutaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami. Ia berkata, Abu al-Ahwash menceritakan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Hadis ini berstatus muttafaq ‘alaih, yaitu diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, sehingga termasuk hadis yang paling sahih. Rasulullah Saw mengaitkan kesempurnaan iman dengan tiga perilaku utama, yaitu tidak menyakiti tetangga, memuliakan tamu, dan menjaga lisan. Pengulangan kalimat “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir” menunjukkan bahwa ketiga perilaku tersebut merupakan konsekuensi nyata dari keimanan seorang muslim. Di antara ketiganya, menjaga lisan mendapat perhatian khusus karena ucapan dapat membawa manfaat sekaligus menjadi sumber berbagai keburukan apabila tidak dikendalikan. Oleh sebab itu, seorang muslim diperintahkan untuk berbicara hanya ketika ucapannya membawa kebaikan, sedangkan apabila tidak ada manfaatnya, lebih baik memilih diam.
Hadis ini diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab Man Kana Yu’minu Billahi wa al-Yaum al-Akhir Fa La Yu’dhi Jarahu, hadis nomor 6018.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Sahih Muslim, hadis nomor 47 (dan dalam penomoran lain 75), melalui jalur Abu Hurairah dengan redaksi yang hampir sama. Selain itu, hadis ini juga terdapat dalam beberapa kitab hadis lainnya dengan redaksi yang semakna.