Malu bagian dari iman


حدثنا عبد الله بن محمد، قال: حدثنا أبو عامر العقدي، قال: حدثنا سليمان بن بلال، عن عبد الله بن دينار، عن أبي صالح، عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ.

Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami. Ia berkata, Abu Amir al-‘Aqadi menceritakan kepada kami. Ia berkata, Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman.”

 حدثنا زهير بن حرب. حدثنا جرير، عن سهيل، عن عبد الله بن دينار، عن أبي صالح، عن أبي هريرة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ.

Zuhair bin Harb menceritakan kepada kami. Ia berkata, Jarir menceritakan kepada kami, dari Suhail, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan ‘La ilaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman.”

Hadis ini sangat relevan dengan pembinaan karakter remaja meskipun tidak menyebut kata الشاب (pemuda) secara eksplisit. Masa remaja merupakan fase pembentukan identitas dan akhlak. Salah satu tantangan yang dihadapi remaja saat ini adalah menurunnya rasa malu terhadap perbuatan yang bertentangan dengan nilai agama dan norma sosial, baik dalam pergaulan langsung maupun di media digital.

Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, hadis nomor 9, dan oleh Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis nomor 35 (dalam sebagian penomoran internasional tercantum sebagai hadis nomor 58 sesuai urutan dalam kitab). Karena diriwayatkan oleh kedua imam tersebut, hadis ini berstatus muttafaq ‘alaih, sehingga termasuk hadis yang paling sahih dalam literatur Islam.