حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
“أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ تَابَعَهُ شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ”
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin ‘Uqbah berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang”.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Syu’bah dari Al A’masy.
Riwayat Imam Bukhari
Hadis ini menjelaskan tiga ciri utama yang menjadi indikator kemunafikan dalam perilaku seseorang, yaitu berdusta ketika berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat terhadap amanah. Rasulullah tidak bermaksud menyatakan bahwa setiap orang yang pernah melakukan salah satu perbuatan tersebut langsung menjadi munafik secara akidah, melainkan menunjukkan bahwa perilaku tersebut merupakan karakter yang menyerupai sifat orang munafik (nifaq ‘amali). Selain itu, hadis ini menekankan pentingnya kejujuran, komitmen terhadap janji, dan menjaga amanah sebagai fondasi akhlak seorang Muslim. Ketiga nilai tersebut menjadi dasar terbangunnya kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat.