Hadis 7 – Orang Munafik yang Meninggalkan Salat Berjamaah


وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ:

“لَقَدْ رَأَيْتُنَا، وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ”

رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَأَحْمَدُ، وَلَمْ يُخَرِّجْهُ الْبُخَارِيُّ وَلَا التِّرْمِذِيُّ.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata:

“Sungguh aku telah melihat keadaan kami, tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali seorang munafik yang telah diketahui kemunafikannya. Bahkan pernah ada seseorang yang datang dengan dipapah oleh dua orang hingga ia ditegakkan di dalam barisan salat.”

 

 

Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian para sahabat terhadap pelaksanaan salat berjamaah. Pada masa Rasulullah Saw. orang yang sengaja meninggalkan salat berjamaah tanpa uzur yang dibenarkan dianggap memiliki salah satu tanda kemunafikan. Bahkan, sahabat yang sedang sakit tetap berusaha menghadiri salat berjamaah dengan dipapah oleh dua orang hingga dapat berdiri di dalam saf.

Dalam konteks tema “Munafik dan Sifat Kemunafikan”, hadis ini menjelaskan bahwa kemunafikan tidak hanya tampak dalam ucapan dan perilaku sosial, tetapi juga dapat tercermin dari sikap meremehkan ibadah yang menjadi syiar Islam. Oleh karena itu, hadis ini menjadi dorongan bagi setiap Muslim untuk menjaga salat berjamaah sesuai kemampuan sebagai wujud keimanan, sekaligus menjauhi perilaku yang menyerupai sifat orang munafik.