Hadis 8 – Berlaku Jujur dan Jauhi Dusta


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُمَيْرٍ عَنْ سُلَيْمِ بْنِ عَامِرٍ عَنْ أَوْسَطَ قَالَ خَطَبَنَا أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَقَامِي هَذَا عَامَ الْأَوَّلِ وَبَكَى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ سَلُوا اللَّهَ الْمُعَافَاةَ أَوْ قَالَ الْعَافِيَةَ فَلَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ قَطُّ بَعْدَ الْيَقِينِ أَفْضَلَ مِنْ الْعَافِيَةِ أَوْ الْمُعَافَاةِ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النَّارِ وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ اللَّهُ تَعَالَى

رَوَاهُ أحمد

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Yazid Bin Khumair dari Sulaim Bin ‘Amir dari Ausath, dia berkata: Abu Bakar berkhutbah kepada kami dan berkata: “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ditempatku ini pada tahun pertama. Lalu Abu Bakar menangis, kemudian berkata: mohonlah kepada Allah Al mu’aafaat (ampunan) atau ia berkata Al ‘Aafiyah (keselamatan), karena tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih utama dari Al ‘Aafiyah atau Al mu’aafaat setelah keyakinan, berlaku jujurlah kalian karena kejujuran bersama kebajikan dan keduanya berada di surga, dan jauhilah dusta karena dusta bersama kejahatan dan keduanya berada di neraka, dan janganlah kalian saling dengki, bermusuhan, dan jangan pula saling memutus tali silaturrahim dan saling berpaling, akan tetapi jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan.”

Riwayat Imam Ahmad

 

Hadis ini memuat beberapa pesan penting yang menjadi pedoman bagi seorang Muslim dalam menjaga keimanan dan akhlaknya. Pertama, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar umat Islam senantiasa memohon al-‘āfiyah (keselamatan, kesehatan, dan perlindungan) kepada Allah. Setelah memperoleh keyakinan (iman), tidak ada nikmat yang lebih besar daripada afiat, karena dengannya seseorang dapat menjalankan ibadah dan menjalani kehidupan dengan baik.

Kedua, hadis ini menekankan pentingnya kejujuran (ṣidq) sebagai karakter utama seorang mukmin. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kejujuran akan mengantarkan seseorang kepada kebajikan (al-birr), dan keduanya menjadi sebab seseorang memperoleh surga. Kejujuran bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam niat, perbuatan, dan komitmen terhadap amanah serta janji.

Ketiga, Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar menjauhi dusta (kadzib). Dusta merupakan pangkal berbagai bentuk kemaksiatan dan menjadi jalan menuju kefajiran. Seseorang yang terbiasa berdusta akan kehilangan kepercayaan dari orang lain dan semakin jauh dari nilai-nilai keimanan.

Dalam konteks tema “Munafik dan Sifat Kemunafikan”, hadis ini memiliki hubungan yang sangat erat karena berdusta merupakan salah satu ciri utama orang munafik sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih: “Apabila berbicara ia berdusta.” Oleh sebab itu, hadis ini menjadi penegas bahwa seorang Muslim harus membiasakan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan agar terhindar dari sifat-sifat kemunafikan dan memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT.