Hadis 1 – Pengertian Munafik


 حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ عَنْأَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

“آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ”

رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Shahih Bukhari 2485: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu ar Rabi’ berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far berkata: telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Malik bin Abu ‘Amir Abu Suhail dari Ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tanda-tanda munafiq ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat”

Riwayat Imam Bukhari

Hadis ini menjelaskan tiga ciri utama yang menjadi indikator kemunafikan dalam perilaku seseorang, yaitu berdusta ketika berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat terhadap amanah. Rasulullah tidak bermaksud menyatakan bahwa setiap orang yang pernah melakukan salah satu perbuatan tersebut langsung menjadi munafik secara akidah, melainkan menunjukkan bahwa perilaku tersebut merupakan karakter yang menyerupai sifat orang munafik (nifaq ‘amali).
Selain itu, hadis ini menekankan pentingnya kejujuran, komitmen terhadap janji, dan menjaga amanah sebagai fondasi akhlak seorang Muslim. Ketiga nilai tersebut menjadi dasar terbangunnya kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat.