Melimpahnya Harta


Pernahkah kamu membayangkan suatu masa ketika harta begitu banyak hingga orang yang diberi kekayaan dalam jumlah besar justru masih merasa kurang?

Mungkin terdengar aneh, tetapi Rasulullah saw telah mengabarkan bahwa keadaan seperti itu akan terjadi sebagai salah satu tanda semakin dekatnya Hari Kiamat. Yang menjadi masalah bukan sedikit atau banyaknya harta, melainkan hilangnya rasa syukur dan puas dalam hati manusia.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ، فَقَالَ:

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مَوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةً فَلَا يَسْخَطُ، ثُمَّ فِتْنَةٌ لَا يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلَّا دَخَلَتْهُ، ثُمَّ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الْأَصْفَرِ صُلْحٌ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendatangi Nabi saw ketika perang Tabuk, sedangkan beliau berada di dalam sebuah kubah dari kulit. Lalu beliau bersabda:

“Hitunglah enam perkara menjelang kiamat: wafatku, kemudian penaklukan Baitul Maqdis, kemudian kematian massal yang menimpa kalian seperti penyakit pada kambing, kemudian melimpahnya harta sehingga seseorang diberi seratus lalu ia tidak marah, kemudian fitnah yang tidak tersisa satu rumah pun dari bangsa Arab melainkan memasukinya, kemudian antara kalian dan Bani al-Ashfar ada perjanjian damai lalu mereka berkhianat dan datang kepada kalian dengan delapan puluh panji, di bawah setiap panji ada dua belas ribu.”

(‘Auf bin Malik RA, Kitab: Shahih Al-Bukhari.)

Dalam hadis ini, Rasulullah saw menyebutkan bahwa akan datang masa ketika harta melimpah. Kekayaan menjadi mudah didapat, perdagangan berkembang, dan kehidupan manusia semakin makmur. Namun, melimpahnya harta ternyata tidak selalu membuat manusia merasa cukup. Banyak orang justru semakin tamak, selalu ingin memiliki lebih banyak, dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya.

Keadaan seperti ini dapat kita lihat pada kehidupan sekarang. Kemajuan ekonomi dan teknologi membuat banyak orang memiliki penghasilan yang lebih baik dibandingkan masa lalu. Akan tetapi, di sisi lain masih banyak yang terus mengejar harta tanpa mengenal batas, bahkan rela mengabaikan ibadah, keluarga, maupun kejujuran demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Padahal, kekayaan hanyalah titipan dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk mencari rezeki yang halal, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, serta menggunakan harta untuk hal-hal yang bermanfaat seperti bersedekah, membantu sesama, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Harta yang banyak akan menjadi kebaikan apabila disertai rasa syukur dan digunakan di jalan yang benar. Sebaliknya, jika harta membuat manusia lalai dari Allah, maka ia justru menjadi ujian yang berat.

Melimpahnya harta bukanlah tanda bahwa manusia semakin dekat dengan kebahagiaan. Justru hadis ini mengingatkan bahwa ketika kekayaan semakin melimpah tetapi hati manusia semakin kosong dari rasa syukur, maka itu termasuk salah satu tanda bahwa Hari Kiamat semakin dekat.