Ketentuan Batas Tempat (Miqat) Haji dan Umrah


حَدَّثَنَا حَدَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:

وَقَّتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرْنًا لِأَهْلِ  الْحُلَيْفَةِ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ. قَالَ: سَمِعْتُ هَذَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ قَالَ:

وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمُ.

وَذُكِرَ الْعِرَاقُ فَقَالَ: لَمْ يَكُنْ عِرَاقٌ يَوْمَئِذٍ.

Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: Nabi SAW menentukan Qarnun (Qarnul Manazil) sebagai batas (miqat) bagi penduduk Najd, Al-Juhfah bagi penduduk Syam, dan Dzulhulaifah bagi penduduk Madinah. Ibnu Umar berkata: ‘Aku mendengar hal ini langsung dari Nabi SAW. Dan telah sampai kabar saya bahwa Nabi SAW juga bersabda:

“Dan bagi penduduk Yaman miqatnya adalah Yalamlam”.

Ketika wilayah Irak disebutkan, beliau (Ibnu Umar) berkata: ‘Pada masa itu kawasan Irak belum menjadi negeri Islam.