وَاِذِ اسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًاۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْۗ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ ٦
Terjemahan
(Ingatlah) ketika Musa memohon (curahan) air untuk kaumnya. Lalu, Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka, memancarlah darinya (batu itu) dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.
Pesan ayat
· Nikmat Allah kepada Bani Israil
· Pembagian yang adil
· Perintah bersyukur
· Larangan berbuat kerusakan
Relevansi
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, mengelola sumber daya secara bijak, mencegah eksploitasi berlebihan, serta menghindari perbuatan merusak lingkungan. Ayat ini juga menekankan pentingnya distribusi yang adil agar setiap orang memperoleh haknya, sekaligus menjadi peringatan agar manusia tidak kufur nikmat dan tidak menjadikan karunia Allah sebagai sarana berbuat kerusakan di muka bumi.