Landasan Hadis


حَدَّثَنَا مُقَدَّمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَمِّي قَاسِمُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا:

أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ

قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،

إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، فَقَالَ:

«خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ».

Telah menceritakan kepada kami Muqaddam bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami pamanku (Qasim bin Yahya), dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Aisyah radhiyallahu ‘a

Bahwasanya Hindun binti Utbah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafkah yang cukup untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian itu boleh?”

Maka Beliau ﷺ bersabda:

“Ambillah (dari hartanya) sekadar yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang patut (baik).”

 

Fiqhul Hadis (penjelasan):

Hadis ini menjadi dasar bahwa nafkah anak adalah hak yang wajib dipenuhi ayah, dan jika ayah lalai, ibu berhak mengambil sekadar kebutuhan yang patut.